Indonesia | English
Search :
Publikasi

Customer Support
 


Saturday,30-August-2014
M S S R K J S
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31  
Agenda Rutin
Jumat: Apel & Senam Pagi
Jumat setelah senam: Futsal dan Pingpong
Kamis Minggu ke-2 & 4: Latihan Arkeologi Bawah Air

Berita

Penelitian
Ragam Hias Candi-candi di DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur (Tahap II )

Ragam Hias Candi-candi di DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur  (Tahap II )

Latar Belakang Penelitian:

 

Ragam hias dalam kehidupan masyarakat sebagai media ungkapan perasaan yang diwujudkan dalam bentuk visual, proses penciptaannya tidak lepas dari pengaruh lingkungan dan berperan sebagai media untuk memperindah suatu karya manusia. Jenis-jenis ragam hias dapat dijumpai dalam berbagai benda maupun bangunan-bangunan fisik yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Hasil karya tersebut telah ada sejak masa lampau, yang  diciptakan oleh nenek moyang bangsa kita melalui tinggalan-tinggalan arkeologinya untuk keperluan religius yang ber

sifat simbolis.

 

Kedatangan agama Hindu dan Buddha yang dikenal sebagai Masa Klasik di Indonesia, ditandai dengan pembangunan banyak tempat ibadah bagi agama Hindu dan Buddha, bukannya melenyapkan kebudayaan nenek moyang yang sudah ada, melainkan lebih memperkaya kebudayaan Indonesia. Kontak dan sintesa dengan kebudayaan lain mencetuskan kebudayaan dan kesenian yang harmonis, dinamik, dan unik sesuai dengan jiwa masyarakat yang mula-mula bertujuan kepada pemujaan terhadap nenek moyang dan religi yang  kemudian menjadi kreasi seni berupa ornamen-ornamen. Pada bangunan candi , selain dijumpai adanya  arca, juga didapati  hiasan-hiasan struktural pada bagian-bagian candi  serta berupa  relief-relief. Pada masa tersebut bentuk ragam hias yang sebelumnya sudah ada, yaitu bentuk-bentuk geometris, tetap dipakai sebagai hiasan pada benda-benda hasil budaya, dan dipadukan dengan bentuk-bentuk non-geometris. Selanjutnya muncullah ragam-ragam hias berupa penggambaran manusia, dunia tumbuh-tumbuhan, dan dunia binatang  dibentuk sedemikian rupa sehingga terwujud suatu bentuk tertentu. Bentuk alam yang asli distilir terlebih dahulu sesuai dengan bakat dan kemampuan seniman, maupun  berdasarkan ragam-ragam  yang bersifat turun-temurun. Rupanya pengaruh Hindu memberikan perkembangan dengan motif-motif hiasan dan relief-relief yang dipahat  pada candi-candi. Relief merupakan suatu bentuk dari hiasan yang terdapat dalam karya

arsitektur berupa bangunan candi, petirtaan, gua-gua, punden berundak, maupun pintu gerbang. Selain memiliki nilai estetika relief juga memiliki nilai simbolis-religius dan dapat menentukan identitas keagamaan suatu karya arsitektur. Pada umumnya relief dipahatkan pada bidang datar, baik di bagian kaki, badan atau pun atap bangunan. 

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan ragam hias non-cerita pada relief candi tanpa cerita yang berupa hiasan geometris dengan fungsi sebagai pengisi bidang, dan relief simbol mitologis dari abad VII sampai dengan abad XV Masehi. Atau dengan kata lain, mengetahui perkembangan bentuk ragam hias relief dari candi tertua sampai dengan candi termuda.

Penelitian Tahap II yang dilaksanakan pada 6 - 17 Mei 2011 ini difokuskan di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, meliputi empat kabupaten yaitu:

  1. Kabupaten Sleman: Candi Prambanan, Sewu, Kalasan, Plaosan, Sari, Sambisari Barong dan Morangan.
  2. Kabupaten Klaten: Candi Asu, Pendem, Lumbung, dan Merak.
  3. Kabupaten Magelang: Candi Borobudur, Mendut, Ngawen, Umbul, dan Gunung Wukir.
  4. Kabupaten Karanganyar: Candi Sukuh.

Pada umumnya candi-candi tersebut menampak

kan motif-motif geometris seperti: meander, pilin, tumpal, dan lain-lain. Motif ini merupakan motif ragam hias tertua sejak masa prasejarah. Kemudian pada waktu seni klasik/Hindu masuk ke Indonesia, ragam hias geometris berkembang menjadi bentuk ragam hias organis berupa sulur-sulur tumbuh-tumbuhan, pohon, dan bunga. Ragam hias dengan motif ini ada yang bersifat simbolis ataupun hanya sebatas sebagai pengisi bidang saja.

Melihat motif-motif ragam hias candi-candi dari abad VII sampai dengan abad XV Masehi  yang telah diteliti pada Tahap II ini, menunjukkan bahwa motif-motif ragam hias geometris berkembang menjadi motif ragam hias organis.

Penelitian ragam hias ini dimaksudkan untuk membangkitkan kembali nilai-nilai luhur dari warisan budaya nenek moyang, agar nantinya masyarakat mulai memahami pentingnya warisan yang berupa tinggalan budaya.

Sesudah penelitian ini selesai pada Tahap III dan IV, diharapkan dapat dibuat data-base sesuai dengan tujuan penelitian, agar dapat diketahui perkembangan seni ragam hias tentang tinggal

an budaya Hindu-Buddha tersebut. ( Rita)

 

Kegiatan di lapangan: Pengukuran relief ragam hias

 

Salah satu motif ragam hias: kombinasi geometris, tumbuhan, dan binatang


 

LAYANAN KAMI

BALAI ARKEOLOGI YOGYAKARTA selain melayani masyarakat di bidang informasi dan pengetahuan kearkeologian berupa publikasi seperti penerbitan, penyuluhan, pameran, film dan multimedia, juga melayani dalam bidang: 1. konsultasi tentang BCB (benda dan banggunan) 2. pelaksana penelitian arkeologi 3. studi kelayakan arkeologis 4. pendokumentasian dan penyuntingan film pengetahuan arkeologi 5. hal-hal lain yang berkaitan dengan kearkeologian .....

POLLING
Menurut anda apakah situs - situs kuno diberbagai daerah di seluruh Indonesia sudah ditanggani dengan baik ?