Indonesia | English
Search :
Publikasi

Customer Support
 


Wednesday,3-September-2014
M S S R K J S
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  
Agenda Rutin
Jumat: Apel & Senam Pagi
Jumat setelah senam: Futsal dan Pingpong
Kamis Minggu ke-2 & 4: Latihan Arkeologi Bawah Air

Berita

Penelitian
HASIL PENELITIAN SITUS LIYANGAN 2011

RINGKASAN HASIL PENELITIAN SITUS LIYANGAN

Tahap II (2011)

 


1. Latar Belakang Penelitian                                                                                               

Penelitian permukiman masa Mataram Kuna di situs Liyangan tahap II merupakan tindak lanjut dari rangkaian kegiatan peninjauan dan penjajagan oleh Balai Arkeologi di Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, yang pernah dilakukan pada tahun 2000, 2009, dan 2010. Di samping itu, pada tahun 2008 dilaporkan adanya penemuan  berupa talud tebing, yoni, arca, dan batu-batu candi, namun laporan ini belum ditindaklanjuti dengan peninjauan.

Peninjauan tahun 2000 didasari oleh informasi ditemukannya struktur batu di  halaman rumah seorang warga Dusun Liyangan. Secara astronomis, lokasi temuan struktur yang berada di tengah permukiman tersebut adalah S7 15 01.8 E110 01 44.8 dengan ketinggian dari permukaan air laut sekitar 1.100 meter. Idenitifikasi oleh tim menyebutkan bahwa struktur tersebut merupakan struktur yang dibangun dari balok-balok batu dan membentuk konstruksi yang cenderung memanjang dengan orienasi vertiakal sekitar 800 atau hampir tegak (Rangkuti dkk., 2000). Belum ada penjelasan lebih jauh atas temuan tersebut, namun diduga bahwa konstruksi seperti itu berkaitan dengan peradaban masa Mataram Kuna. Selain dari karakteristik bahan dan teknologinya, Dusun Liyangan juga berada pada kawasan yang memang menyimpan banyak data arkeologi masa Mataram Kuna sehingga temuan tersebut dikaitkan dengan masa itu.

Pada tahun 2008, para penambang pasir yang lokasinya berada tidak jauh dari temuan struktur tahun 2000, yaitu sekitar 400 meter arah tenggara (elevasi sekitar 1.100-1200 meter dpal), menemukan struktur yang konstruksinya mirip talud tebing dan beberapa komponen batu candi maupun arca. Penemuan tersebut ditindaklanjuti dengan peninjauan pada awal 2009 untuk mengidentifikasi data arkeologi yang ditemukan oleh penduduk. Hasil identifikasi antara lain menyebutkan adanya bangunan mirip “talud” yang dibangun dari kubus-kubus batu dan”konstruksi” talud dari boulder yang menempel pada “talud tebing”. Meskipun belum diketahui fungsinya, namun diduga bangunan tersebut merupakan hasil rekayasa atau modifikasi lingkungan yang berkaitan dengan pertanian. Dugaan ini diperkuat dengan ditemukannya sejumlah yoni di sekitarnya yang tidak kontekstual dengan bangunan candi. Dalam hal ini yoni-yoni tersebut berkaitan dengan kegiatan pertanian, sehingga diduga kontekstual dengan bangunan “talud”. Selain itu, penduduk juga menemukan sejumlah arca, lampu dari tembikar, dan batu-batu yang diduga kuat merupakan komponen bangunan candi. Berdasarkan hal itu, salah satu hipotesis hasil peninjauan tersebut adalah situs Liyangan sebagai situs yang kompleks, setidaknya meliputi data yang berkaitan dengan kegiatan modifikasi lingkungan untuk menunjang pertanian kuna dan dugaan kuat adanya bangunan candi di sekitar situs.

Dugaan adanya bangunan candi ternyata benar, karena beberapa waktu setelah peninjauan (tahun 2009)  para penambang yang terus-menerus memperluas area galian tambang menemukan bangunan candi. Lokasi bangunan candi ini berjarak sekitar 100 meter arah timur-laut dari bangunan talud tebing. Sejak itu, informasi penemuan data arkeologi di sekitar lokasi penambangan terus masuk ke Balai Arkeologi Yogyakarta, sehingga pada bulan April tahun 2010 diterjunkan tim penelitian penjajagan (Tjahjono, dkk, 2010). Secara khusus pepmbentukan tim ini bertujuan untuk menampung informasi berbagai penemuan susulan maupun untuk menentuan tingkat potensi situs Liyangan secara lebih akurat, guna pengembangan situs Liyangan, khususnya dalam kerangka penelitian arkeologi.

Strategi yang ditempuh dalam penelitian penjajagan tersebut adalah memfokuskan pada gejala-gajala data arkeologi yang dijumpai di lokasi penambangan dan intensifikasi pengamatan gejala data arkeologi secara lebih luas dan lebih sistematis. Ddalam hal ini antara lain dilakukan melalui plotting setiap gejala yang dijumpai maupun dengan menggali informasi lebih mendalam pada warga dan penambang. Strategi petama antara lain menghasilkan data arkeologi pada beberapa spot yang sangat mengejutkan, yaitu sisa bangunan rumah dari kayu dan bambu yang terbakar, struktur talud pagar di dekat sisa bangunan rumah, serta beberapa artefak wadah berbahan tanah liat (Tjahjono, dkk, 2010). Spot-spot tersebut umumnya berada di tebing-tebing tambang pasir karena memang muncul akibat penggalian pasir. Hasil pengamatan intensif atas data arkeologi di sekitar penambangan juga mengejutkan, yaitu dijumpainya 11 lokasi konsentrasi batu candi, 4 lokasi yoni, 4 lokasi struktur, fragmen keramik dari masa Dinasti T’ang, serta informasi dari warga berupa lokasi-lokasi struktur batu, temuan arang kayu, artefak, maupun ekofak.

Berdasarkan kualitas dan kuantitas data tersebut, selanjutnya diputuskan untuk mendalami perekaman data pada salah satu spot yang dianggap paling penting, yaitu spot hasil plotting dengan kode “struktur02” yang berdekatan dengan sisa bangunan rumah kayu. Teknik yang digunakan dalam pendalaman ini adalah dengan menempatkan sebuah lubang uji berukuran 2 x 2 meter dan pengupasan dinding galian pasir untuk menampakkan sisa-sisa bangunan rumah. Hasil penggalian pada lubang uji menunjukkan bahwa struktur yang semula diduga sebuah konstruksi talud pagar tersebut adalah benar bangunan talud atau pagar setinggi 2,5 meter. Konstruksi dan bahan balok batu pada struktur tersebut sama dengan struktur yang ditemukan pada tahun 2000 dan terletak di bawah sisa bangunan rumah kayu yang terbakar. Struktur talud  pagar adalah konstruksi dari balok-balok batu berukuran sekitar 80 x 30cm x 10 cm disusun dengan sistem blok (vertikal-memanjang) sebanyak 7 balok 2 lapis dan menyisakan rongga atau sela di antaranya. Bagian dasar dilandasi dengan struktur balok batu batu dan bagian atas ditutup dengan batu berprofil segitiga guna mentup bagian rongga atau sela.

Pengupasan dinding tambang pasir yang bertujuan untuk menampakkan sisa-sisa bangunan rumah menghasilkan gambaran yang dapat digunakan sebagai rekonstruksi di atas kertas. Data yang diperolah dari hasil pengupasan tersebut adalah dua buah batu pipih yang diduga merupakan landasan tiang kayu, tiang kayu, lantai kayu, dinding kayu, dan atap dari bambu dan ijuk. Gambaran hasil rekonstruksi atas sisa bangunan rumah tersebut adalah sebuah bangunan rumah panggung yang ditopang oleh tiang-tiang kayu berbentuk balok panjang, lantai dari susunan papan-papan kayu berada puluhan centi di atas tanah. Dinding rumah dari balok dan papan kayu, dan atap berbentuk sederhana disusun dari kayu, bambu, dan ditutup tumpukan lembaran-lembaran ijuk.

Secara kronologis, situs Liyangan ditempatkan pada masa Mataram Kuna dengan indikasi antara lain profil bagian kaki bangunan candi dengan ciri-ciri Jawa Tengah dan keramik dari masa Dinasti T’ang sekitar abad ke-9 Masehi. Sementara itu, disimpulkan pula bahwa situs Liyangan merupakan situs dengan karakter kompleks. Indikasi sebagai situs permukiman, situs ritual, dan situs “pertanian” didapatkan di situs Liyangan. Kompleksitas karakter tersebut membawa ke pemikiran bahwa situs Liyangan adalah bekas pedusunan yang pernah berkembang pada masa Mataram Kuno. Ragam data dan karakter ini tergolong istimewa, mengingat inilah satu-satunya situs yang mengandung data arkeologi berupa sisa rumah dari masa Mataram Kuno (Tjahjono, dkk, 2010).

Berdasarkan rekomendasi dan hasil penelitian penjajagan mengenai arti penting situs ini khususnya berkaitan dengan pengembangan penelitian arkeologi, selanjutnya dirancang program penelitian di situs Liyangan yang diarahkan pada tema permukiman kuna masa Mataram Kuna. Hasil penelitian tahap I tahun 2010 menghasil informasi antara lain sebagai berikut (Istari, 2010).

Sebaran data arkeologi hasil survei berupa:

-      Arca nandi

-      Sebaran batu candi

-      Yoni

-      Umpak

-      Pagar candi

-      Strktur batu talud

-      Fragmen gigi fauna

-      Bulir padi yang terbakar

-      Batu candi di dekat sumber air

Selain survei, pada tahap I juga dilakukan ekskavasi dengan sistem grid yang mengacu pada arah mata angin. Terdapat lima spot atau area gali guna mendapatkan data tentang struktur talud permukiman, struktur talud tebing, pagar candi, serta struktur lainnya. Gambaran hasil ekskavasi tahap I adalah sebagai berikut.

2. Hasil Penelitian

2.1 Proses Ekskavasi

Secara keseluruhan kotak ekskavasi yang digali pada peneltian tahap II berjumlah 17 kotak yang dapat dekelompokkan ke dalam lima kelompok. Dua dari 17 kotak ekskavasi merupakan lanjutan dari penggalian pada penelitian tahap I yang pada saat itu kondisi lahan pada lokasi kotak tidak memungkinkan untuk membuka kotak secara penuh 2 x 2 meter. Dua kotak tersebut adalah U2T19 dan  S27 B41 yang sebelumnya bernama B38 S27. Di samping itu, terdapat 1 kotak ekskavasi yang merupakan penggalian “otoposi” pada lokasi galian warga tahun 2000, yaitu di sektor 2 yang berada di area permukiman penduduk, tepatnya di halaman rumah Pak Sucipto. Kotak gali “otopsi” tersebut diberi kode 2TP1 yang dibaca sektor 2 test pit nomor 1.

Lima kelompok kotak ekskavasi dikelompokkan berdasarkan sasaran dan lokasinya. Di sektor 1 terdapat empat kelompok yang terdiri atas “kelompok pagar candi”. “kelompok pagar batu” utara, “kelompok pagar batu” selatan, dan “kelompok talud tebing”. Sementara itu di sektor 2 terdapat satu kelompok kotak ekskavasi berupa penggalian otopsi atas temuan struktur tahun 2000 dan diberi nama “kelompok 2000”.


2.2 Integrasi Data

Data struktur yang ditemukan warga pada tahun 2000 berdasarkan bahan dan teknologinya adalah sama dan semasa dengan konstruksi pagar batu yang ditemukan pada penelitian penjajagan maupun penelitan tahap pertama yang berada di area bangunan candi. Perbedaan konstruksi terdapat pada bagian atas pagar, yaitu berbentuk setengah lingkaran pada pagar batu di area candi sedangkan di kelompok 2000 bagian atas pagar berbentuk rata. Selain itu, orientasi struktur pagar batu di area candi dan di kelompok 2000 juga sama, yaitu 450. Oleh karena itu jika diintegrasikan, maka situs Liyangan meliputi area permukiman penduduk di Dusun Liyangan, setidaknya hingga di sekitar rumah Pak Sucipto.

Secara teknis, struktur talud tebing di kelompok talud belum ditemukan padanannya dengan konstruksi pada struktur di area candi. Namun hal-hal berikut menunjukkan bahwa bangunan talud tebing dapat diintegrasikan ke dalam situs Liyangan, yaitu:

·         Di sekitar talud tebing pada tahun 2008 ditemukan sejumlah arca dan batu candi yang sangat mungkin kontekstual sehingga terkait dengan bangunan candi Liyangan

·         Hasil survei di sekitar talud tebing antara lain berupa fragmen keramik yang beradal dari Dinasti T’ang (abad IX Masehi) yang menunjukkan kronologi semasa dengan bangunan candi yang berprofil klasik Jawa Tengah (abad VIII – IX Masehi)

·         Di kotak ekskavasi yang berada di kelompok pagar batu utara ditemukan juga fragmen keramik dari Dinasti T’ang sehingga area candi Liyangan memang terkait dan semasa dengan bangunan talud tebing

·         Konstruksi pagar batu yang dibangun dari papan-papan batu ternyata dilengkapi dengan konstruksi susunan batu ­boulder sebagaimana ditemukan di kelompok ekskavasi pagar batu utara. Konstruksi yang sama ternyata juga ditemukan pada bangunan talud tebing

2.3 Gambaran Rekonstruktif

Hasil ekskavasi berupa konstruksi talud pagar dan talud tebing yang dapar dibedakan berdasarkan bahan dan fungsinya, yaitu:

·         Pagar candi: berbahan batu andesit berfungsi sebagai pagar halaman bangunan candi Liyangan yang diduga bukan candi tunggal

·         Pagar batu: berbahan batu putih (tufa ?) berfungsi sebagai pembatas antara area bangunan candi dengan permukiman

·         Talud: terdiri atas talud dengan bahan batu putih yang berbentuk “kubus” dan “balok” serta talud berbahan boulder, keduanya berfungsi sebagai stabilitator dinding tebing atau pembatas antar lahan berteras

 

Jika dikaitkan dengan keberadaan bangunan candi, temuan yoni, temuan batu candi, sisa tumah, sisa kayu, sisa padi, tulang dan gigi hewan, maka secara rekonstruktif situs Liyangan dapat digambarkan sebagai berikut.

·         Sebuah permukiman masa Mataram Kuna, sekitar abad IX Masehi yang kompleks

·         Kompleksitas komponen permukiman setidaknya terdiri atas:

o   area permukiman dengan rumuah-rumah panggung berbahan kayu, bambu, dan ijuk (Tjahjono, dkk, 2010)

o   Area peribadatan berupa bangunan candi yang dikelilingi oleh pagar dan kemungkinan merupakan kompleks percandian

o   Bangunan candi lainnya dilindungi dengan talud, yaitu yang berada di sekitar talud

o   Bangunan candi kemungkinan masih akan ditemukan, khususnya di teras yang lebih tinggi dari talud, sebagaimana hasil survei menemukan komponen bangunan candi

o   Area pertanian kemungkinan berada di sekitar permukiman dan di atas area talud

·         Luasan situs belum dapat diketahui secara pasti namun berdasarkan temuan struktur yang terdiri atas berbagai konstruksi dan sebaran lokasinya, kira-kira meliputi radius 300 meter jika Candi Liyangan dijadikan sebagai sumbu

·         kompleksitas komponen permukiman dan luasan situs menunjukkan bahwa Liyangan merupakan satu-satunya situs permukiman masa klasik yang “lengkap” dan pada masanya merupakan wilayah yang penting dalam peradaban Mataram Kuna


3. Rekomendasi

Penelitian situs Liyangan memang masih tahap awal sehingga informasi akademik yang diperoleh belum memadai untuk dipublikasikan secara lebih luas. Demikian pula dengan aspek pengembangan, dalam batasan tertentu tidak dapat dilepaskan dari hasil penelitian, sehingga secara teknis maupun akademis situs Liyangan “belum siap” untuk dimanfaatkan. Selain itu juga dipengaruhi oleh faktor eksisting situs berupa lahan tambang pasir (galian C) yang masih aktif dengan kondisi tanah yang keras berupa materi lahar hingga 10 meter, sehingga ruang gerak penelitian maupun studi lainnya relatif masih terbatas.

Berdasarkan hal tersebut, maka direkomendasikan hal-hal sebagai berikut:

-      Pengembangan situs diprioritaskan pada aspek penelitian dan pelestarian secara integral

-      Penelitian difokuskan pada keberadaan struktur untuk mendapatkan gambaran secara lebih jelas aspek keruangan mikro dan semi mikro

-      Menjajagi kemungkinan pembebasan lahan situs agar ruang gerak penelitian dan studi lainnya lebih leluasa

-      Menyusun agenda yang terintegrasi antar sektor terkait, khususnya sektor pelestarian, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Temanggung, dan sektor akademik guna mendorong akselerasi proses penelitian

-      Menyusun konsep “Taman Konservasi Liyangan” yang melibatkan antara lain:

o   sektor penelitian arkeologi dan pelestarian purbakala,

o   sektor perkebunan dan kehutanan,

o   sektor lingkungan hidup,

o   sektor kesenian dan tradisi lokal,

o   sektor kepariwisataan (sgg)


LAYANAN KAMI

BALAI ARKEOLOGI YOGYAKARTA selain melayani masyarakat di bidang informasi dan pengetahuan kearkeologian berupa publikasi seperti penerbitan, penyuluhan, pameran, film dan multimedia, juga melayani dalam bidang: 1. konsultasi tentang BCB (benda dan banggunan) 2. pelaksana penelitian arkeologi 3. studi kelayakan arkeologis 4. pendokumentasian dan penyuntingan film pengetahuan arkeologi 5. hal-hal lain yang berkaitan dengan kearkeologian .....

POLLING
Menurut anda apakah situs - situs kuno diberbagai daerah di seluruh Indonesia sudah ditanggani dengan baik ?