Indonesia | English
Search :
Publikasi

Customer Support
 


Monday,20-October-2014
M S S R K J S
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  
Agenda Rutin
Jumat: Apel & Senam Pagi
Jumat setelah senam: Futsal dan Pingpong
Kamis Minggu ke-2 & 4: Latihan Arkeologi Bawah Air

Berita

Penelitian
LAPORAN RINGKAS PENELITIAN POLA OKUPASI GUA KIDANG, HUNIAN MASA PRASEJARAH KAWASAN KARST TODANAN

A.    PENDAHULUAN

Sejak tanggal 18 sampai dengan tanggal 29 April 2011 Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan ekskavasi di Gua Kidang yang secara administratif berada di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Penelitian ini merupakan penelitian tahap VI dengan ketua tim Indah Asikin Nurani.

Kehidupan manusia masa prasejarah khususnya kala Plestosen akhir sampai awal Holosen, dalam mempertahankan hidupnya masih sangat bergantung pada ketersediaan lingkungan alam sekitarnya. Seiring dengan tingkat kecerdasan dan teknologi yang dikenalnya, manusia saat itu lebih mampu mempertahankan hidupnya dan mengeksploitasi alam daripada masa sebelumnya yang masih mengembara. Hal tersebut ditunjukkan dalam pola hidup mereka untuk bertempat tinggal yang lebih menetap dengan memanfaatkan gua atau ceruk sebagai tempat tinggal mereka. Di Asia Tenggara, kehidupan di gua (cave) atau ceruk (rock shelter) mencapai puncaknya pada kala Holosen. Pertimbangan manusia saat itu dalam memanfaatkan gua atau ceruk sebagai tempat tinggal tidak dilakukan secara serampangan. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak semua gua atau ceruk dimanfaatkan sebagai tempat tinggal (tempat bermukim). Dari aspek keletakan, manusia saat itu cenderung memilih lokasi gua atau ceruk pada daerah-daerah yang menyediakan kebutuhan pokoknya, seperti sumber bahan makanan aquatik atau non aquatik yang dianggap menguntungkan dari segi subsistensinya. Sebaliknya mereka tidak akan menempati daerah yang miskin sumber makanan, tandus, penuh bahaya, tidak sehat, atau sulit dari jangkauan baik dalam komunikasi maupun transportasi dengan daerah lain. Selain itu, untuk mempertahankan hidupnya, mereka juga membuat perkakas dari bahan yang tersedia di lingkungan sekitarnya seperti dari batu, tulang, tanduk, cangkang moluska, dan kayu. Dengan demikian, sumberdaya lingkungan menentukan corak perkembangan teknologi yang diterapkan dalam pembuatan alat.

Berdasarkan hal tersebut, maka rumusan masalah penelitian Pola Okupasi Gua Kidang ini adalah sebagai berikut:
  • Seberapa lama pemanfaatan lahan Gua Kidang dihuni, dalam hal ini terkait dengan waktu yaitu awal sampai akhir hunian (sebagai sampel akan digali sedalam-dalamnya kotak T6S1)?
  •  Bagaimana perkembangan teknologi untuk pembuatan peralatan baik dari    cangkang kerang/moluska maupun tulang, serta variasi jenis alat?
  • Bagaimana sistem penguburan yang diterapkan oleh penghuni Gua Kidang? dan
  • Bagaimana hubungan hunian antara Gua Kidang A dengan Gua Kidang AA?

Adapun tujuan penelitian dimaksudkan untuk mengetahui:
  • Pola pemanfaatan lahan Gua Kidang (tata ruang) baik pemanfaatan horisontal (ruang) maupun vertikal (waktu) sebagai gua hunian pada masa prasejarah;
  • Perkembangan teknologi dan variasi jenis artefak (alat dan perhiasan) yang dikembangkan pendukung Gua Kidang;
  • Sistem penguburan yang diterapkan penghuni Gua Kidang; dan
  • Pola hunian kompleks Gua Kidang.
Ruang lingkup kegiatan penelitian meliputi tinggalan arkeologis berupa sisa makanan, peralatan sehari-hari dari cangkang kerang, tulang dan batu, serta jejak penguburan. Selain itu juga proses pengendapan atau sedimentasi terkait dengan kajian geologis.

B.    METODE

Metode penelitian yang digunakan bertipe deskriptif-eksplanatif dengan penalaran induktif.

Variabel yang ditetapkan dalam penelitian ini meliputi arkeologis (budaya), ekologi (potensi sumber makanan --fauna dan flora--), dan kondisi geologis-geografis. Dalam variabel budaya hal-hal penting yang dijadikan variabel adalah morfologi (atribut bentuk dan teknologi), umur atau kronologi, dan struktur atau bentuk susunan atau konfigurasi sebarannya.

Variabel ekologi meliputi ketersediaan sumber makanan berupa flora dan fauna dikaitkan dengan temuan yang ada untuk menjelaskan apakah seluruh temuan dimanfaatkan sebagai makanan ataukah dimanfaatkan untuk keperluan lain dalam hidup mereka. Ketersediaan sumber makanan pada waktu tertentu (seperti moluska, ataukah fauna darat lainnya), sehingga akan diketahui pola makan dan mobilitas/jelajah manusia dalam mencari makan sebagai sumber hidupnya.

Variabel geologis-geografis (lingkungan alam sekitaranya) meliputi beberapa hal seperti morfologi lahan yang ada, sehingga akan dapat dijelaskan bagaimana pola hidup manusia penghuni gua dengan kondisi alam seperti itu. Selain itu akan diketahui mengapa pada lahan-lahan tertentu dijadikan aktivitas tertentu, sehingga dapat dijelaskan bagaimana pola adaptasi dilakukan dalam mempertahankan hidupnya.

Pengumpulan data dilakukan dengan ekskavasi pada kotak gali yang dianggap representatif untuk mengetahui pemanfaatan lahan gua. Operasional kegiatan penelitian tahap VI ini dilakukan dengan meneruskan ekskavasi pada 4 (empat) kotak gali berukuran 1,5 x 1,5 m yang telah dilakukan pada tahap V (th 2011) yaitu kotak B2U7; T6S2; T7S2 (Gua Kidang A) dan kotak U31T49 (Gua Kidang AA). Tujuan memperdalam kotak B2U7 adalah untuk mengetahui aktivitas yang berlangsung pada lahan gua bagian kanan, sedangkan kotak T6S2 dan T7S2 adalah untuk merunut temuan rangka manusia yang telah ditemukan bagian kaki di kotak T6S1 berorientasi tenggara – baratlaut, yang bagian atas (tubuh sampai kepala) berada di antara kedua kotak tersebut. Selain itu, penggalian juga dilakukan di Gua Kidang AA untuk mengetahui pola hunian kompleks gua ini yang terdiri atas 2 gua hunian yaitu gua Kidang A dan gua Kidang AA. Penggalian di gua Kidang AA hanya membuka sebuah kotak gali dengan nama kotak U31T49 yang berada di bagian dalam (belakang tengah) lahan gua.

C.    HASIL PENELITIAN

Gambaran ringkas hasil penelitian sejak tahap I sampai dengan tahap VI adalah telah ditemukan tinggalan sejarah pada lapisan atas (setebal 30 cm), yang selanjutnya pada lapisan di bawahnya mulai sekitar 30 cm dari permukaan tanah ditemukan konteks prasejarah antara lain temuan artefak berupa peralatan sehari-hari dari cangkang kerang dan tulang, ekofak sisa makanan (tulang dan cangkang moluska, serta biji-bijian seperti kenari dan kemiri), jejak perapian, serta jejak penguburan pada kedalaman 115 cm dari permukaan tanah (kotak T6S2) dan kedalaman 155 cm dari permukaan tanah (kotak T6S1).

Adapun temuan lapisan sejarah antara lain berupa:
-    Fragmen tembikar
-    Fragmen keramik
-    Fragmen logam (mata uang)
Lapisan prasejarah meliputi
Peralatan dari kerang antara lain berupa:
-    Serut
-    Serut bergerigi
-    Serut cekung
-    Serut samping
-    Lancipan
-    Serut lancipan
-    Bandul atau liontin (berlubang)
Peralatan dari tulang terdiri atas:
-    Lancipan
-    Spatula
-    Gurdi
-    Bilah (pisau)
-    Sudip
-    Alat pengasah
Jejak penguburan adalah temuan berupa rangka hominid (manusia prasejarah penghuni Gua Kidang). Temuan rangka sampai pada tahap VI ini berhasil ditemukan 2 (dua) individu yaitu temuan rangka utuh dengan posisi terlipat pada kedalaman 115 cm dari permukaan tanah ditemukan di kotak T6S2 dan rangka bagian kaki pada kedalaman 155 cm dari permukaan tanah di kotak T6S1.


VARIASI JENIS ALAT KERANG

Keseluruhan temuan tersebut mencerminkan bahwa Gua Kidang merupakan gua yang dihuni secara intensif dalam waktu yang lama pada masa prasejarah. Akivitas yang dilakukan penghuni Gua Kidang meliputi aktivitas pembuatan peralatan sehari-hari dari cangkang kerang, tulang dan beberapa dari batu rijang merah. Selain itu juga berdasarkan temuan rangka manusia mengindikasikan penghuni Gua Kidang telah mengenal penguburan.


SPATULA

Teknologi yang diterapkan dalam pembuatan alat dari cangkang kerang dan tulang mencerminkan teknologi yang “maju” jika dibandingkan temuan alat-alat cangkang kerang dan tulang dari gua-gua lainnya di Jawa. Adapun sistem penguburan yang dapat diketahui berdasarkan temuan rangka hominid bagian bawah (kaki) dan rangka utuh dalam posisi terlipat menunjukkan pendukung gua Kidang telah memperlakukan mayat dalam aktivitas ritual antara lain dengan menyusun bongkahan batu gamping di atas rangka (mayat); menaburi remis-remis cangkang kerang; gamping merah (oker); dan orientasi kubur yang mengindikasikan arah tenggara – baratlaut (temuan rangka kaki di kotak T6S1) dan orientasi barat – timur (temuan rangka utuh di kotak T6S2). Selain itu, sekitar rangka tersebut ditemukan fragmen-fragmen tulang binatang seperti bovidae, cervidae, dan suidae, diduga binatang tersebut sebagai sesajian pada ritual “penguburan”. Berdasarkan analisis antropologi ragawi sementara, rangka tersebut (rangka kaki hominid) meninggal pada usia muda yaitu antara 14 – 19 tahun. Adapun identifikasi jenis kelamin belum dapat diketahui mengingat rangka tersebut bagian pinggul ke atas masih terpendam tanah pada kotak T6S2. Sementara itu, temuan rangka utuh, berhubung kondisi rangka posisinya terlipat, maka masih belum diketahui tinggi badan dan usia si mati. Hal tersebut dikarenakan perhitungan penentuan usia dan tinggi badan perlu analisis lebih lanjut.


BATU ASAH



Rangka kaki, temuan dari kotak T6S1 kedalaman 170 cm, orientasi tenggara - barat laut



Rangka utuh posisi terlipat orientasi barat – timur temuan kotak T6S2

D.    KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian sampai pada tahap VI ini dapat disimpulkan sementara hal-hal sebagai berikut:
  • Pola adaptasi manusia penghuni Gua Kidang dalam mempertahankan hidupnya adalah dengan penjadwalan musim untuk mengkonsumsi pangan. Pada musim kering mereka mengkonsumsi hewan invertebrata yaitu jenis kerang dan siput, sedangkan pada musim basah mereka mengkonsumsi hewan jenis vertebrata. Asumsi tersebut diperkuat dengan bukti stratigrafi yaitu pada lapisan atas temuan ekskavasi didominasi oleh cangkang moluska spesies kerang dan siput baik berupa artefak maupun ekofak (sisa makanan), sedangkan pada lapisan bawah didominasi temuan berupa tulang hewan darat terutama jenis vertebrata baik berupa artefak maupun ekofak. Selain itu, berdasarkan proses pengendapan membuktikan pada lapisan bawah terjadi penggumpalan dengan tingkat kelembaban sedang. Dengan kata lain proses pengendapan tersebut disebabkan kondisi tanah basah. Musim dalam konteks di sini siklusnya bukan dalam tenggang waktu setahun, namun mencakup rentang waktu yang panjang, dengan kata lain merupakan iklim.
  • Pola pemanfaatan lahan Gua Kidang, berdasarkan sebaran temuan pada kotak-kotak ekskavasi menunjukkan temuan relatif sama antarkotak, perbedaan terlihat pada per lapisan tanah yaitu pada lapisan atas didominasi cangkang moluska, sedangkan lapisan bawah didominasi temuan tulang vertebrata. Kondisi demikian menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan gua, tidak didasarkan pemanfaatan untuk per aktivitas. Kemungkinan pemanfaatan lahan gua dilakukan dengan pembagian lahan untuk aktivitas beberapa kelompok penghuni. Dengan kata lain Gua Kidang dihuni oleh beberapa kelompok atau keluarga yang menempati bagian lahan tertentu untuk setiap kelompoknya, sehingga jejak aktivitasnya relatif sama antarlahan.
  • Teknologi yang diterapkan dalam pembuatan alat dari cangkang kerang dan tulang menunjukkan tingkat teknologi relatif “maju” dibandingkan teknik pengerjaan alat kerang dan tulang temuan dari gua-gua lainnya di Jawa. Adapun alat dari batu atau litik tidak berkembang dengan baik, umumnya alat litik dibuat untuk kebutuhan mengasah cangkang dan tulang sehingga teknik-teknik pangkasan sebagaimana dalam pembuatan serpih – bilah tidak ada. Selain itu bahan baku batu yang tersedia di sekitar gua dan lingkungan sekitar tidak menyediakan bahan batu dengan silikaan tinggi, sebagian besar bahan baku yang tersedia adalah rijang merah dan kuning, serta batu andhesit.
  •  Temuan rangka manusia penghuni gua Kidang yang ditemukan di kotak T6S1 semakin jelas bahwa penghuni gua Kidang telah mengenal ritual memperlakukan mayat. Sistem penguburan yang telah diketahui berdasarkan temuan bagian kaki rangka adalah susunan bongkahan batu gamping berorientasi baratlaut – tenggara, penaburan remis-remis cangkang kerang, remukan gamping merah (oker), serta beberapa fragmen vertebrata cervidae dan suidea. Adapun berdasarkan temuan rangka utuh posisi terlipat di kotak T6S2, orientasi rangka sedikit berbeda yaitu barat – timur (kepala di bagian timur menghadap ke barat), selebihnya perlakuan lainnya sama dengan temuan rangka kaki di kotak T6S1.
  • Identifikasi rangka kaki temuan di kotak T6S1 dapat diketahui bahwa si mati berusia antara 14 – 19 tahun, tinggi badan antar 159 – 170 cm. Adapun temuan rangka utuh posisi terlipat di kotak T6S2 baru dapat diidentifikasi berjenis kelamin laki-laki, selebihnya baik tinggi badan dan usia si mati belum dapat diketahui. Namun, berdasarkan kelengkapan gigi tampaknya si mati berusia lebih dari 20 tahun.
  • Hasil ekskavasi di gua Kidang AA untuk mengetahui pola hunian kompleks gua Kidang memberikan petunjuk bahwa gua ini lebih awal dihuni dibandingkan hunian di gua Kidang A. Temuan hasil ekskavasi sejak lapisan atas sudah ditemukan konteks prasejarah berupa artefak dan ekofak dari cangkang kerang dan tulang. Selain itu juga ditemukan beberapa artefak dari batu atau litik berupa alat asah dan batu pukul.
  • Pertanggalan yang sudah didapat dengan sampel arang menghasil angka 7.770 BC pada kedalaman 50 cm dari permukaan tanah di Gua Kidang AA, sedangkan di Gua Kidang A pada kedalaman 60 cm menghasilkan angka 8.600 BC.

( IND )

LAYANAN KAMI

BALAI ARKEOLOGI YOGYAKARTA selain melayani masyarakat di bidang informasi dan pengetahuan kearkeologian berupa publikasi seperti penerbitan, penyuluhan, pameran, film dan multimedia, juga melayani dalam bidang: 1. konsultasi tentang BCB (benda dan banggunan) 2. pelaksana penelitian arkeologi 3. studi kelayakan arkeologis 4. pendokumentasian dan penyuntingan film pengetahuan arkeologi 5. hal-hal lain yang berkaitan dengan kearkeologian .....

POLLING
Menurut anda apakah situs - situs kuno diberbagai daerah di seluruh Indonesia sudah ditanggani dengan baik ?