Indonesia | English
Search :
Publikasi

Customer Support
 


Friday,23-August-2019
M S S R K J S
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Agenda Rutin
Jumat: Apel & Senam Pagi
Jumat setelah senam: Futsal dan Pingpong
Kamis Minggu ke-2 & 4: Latihan Arkeologi Bawah Air

Berita

Arkeologi & Publik
TEMUAN STRUKTUR BATU DI DESA DANUPAYAN DAN TEMUAN BATU DI DESA WONOBOYO TEMANGGUNG

Pada tanggal 14 Maret Balai Arkeologi melakukan peninjauan ke Desa Danupayan dan Desa Wonoboyo. Peninjauan ini dilakukan  atas laporan tertulis dari Disbudparpora Kabupaten Temanggung tentang adanya temuan singkapan struktur batu dan temuan batu di kedua lokasi tersebut.

1. Temuan Singkapan Struktur Batu di Desa Danupayan, Kecamatan Bulu

Struktur batu yang ditemukan di Desa Danupayan terdiri atas dari 1 lapis batu secara horisontal yang tersusun dengan rapi dan masih intact.  Struktur batu ini terletak di areal persawahan tepatnya di sebelah gundukan tanah yang oleh warga disebut sebagai Gumuk Setra. Lokasi temuan tersebut berada pada  1100 09' 00.7" Bujur Timur  dan  070 18' 35.5" Lintang Selatan dengan elevasi sekitar 714 m dpal. Singkapan struktur batu menggunakan  bahan batu andesit. Struktur batu tersebut  menggunakan teknik sambung langsung untuk menyusun antar batuan.





Dari data yang diperoleh selama peninjauan dan analisis yang dilakukan disimpulkan bahwa bentuk dan karakter singkapan struktur batu yang dijumpai diduga berkaitan dengan data arkeologi berupa  pondasi atau bagian dasar sebuah bangunan candi atau pagar. Mengacu pada karakter dan kandungan data temuan singkapan struktur batu dari Desa Danupayan serta korelasi dengan situs-situs lain dari masa klasik di sekitarnya, temuan singkapan struktur batu dari Desa Danupayan termasuk dalam salah satu situs arkeologi yang memiliki potensi tinggi.

Berdasarkan potensi tersebut, diduga bahwa temuan singkapan struktur batu dari Desa Danupayan merupakan situs masa klasik (Peradaban Hindu-Buddha) yaitu sekitar abad VIII – IX Masehi dan merupakan cagar budaya.







rekomendasi yang dihasilkan dari kegiatan peninjauan temuan singkapan struktur batu di Desa Danupayan meliputi beberapa aspek yaitu aspek penelitian, aspek pelestarian dan aspek perlindungan.  Pada aspek penelitian direkomendasikan untuk dilakukan koordinasi antar instansi terkait, khususnya Balai Arkeologi Yogyakarta, Balai Pelestarian Cagar Budaya (d/h BP3)  Jawa Tengah, dan Disbudparpora Kabupaten Temanggung untuk pelaksanaan kegiatan penelitian arkeologi di lokasi temuan singkapan struktur batu di Desa Danupayan Kecamatan Bulu.

Pada aspek pelestarian perlu diperhatikan bahwa aktivitas pemanfaatan lahan untuk bercocok tanam di lokasi temuan singkapan struktur batu dari Desa Danupayan merupakan permasalahan yang serius dan perlu mendapat perhatian dari dinas terkait, khususnya Disbudparpora Kabupaten Temanggung, BPCB Jawa Tengah, dan aparat pemerintah setempat untuk berpatisipasi aktif mengawasi dan menjaga dari segala tindakan destruktif (merusak). Perhatian ini juga untuk meninjaklanjuti jika terdapat temuan-temuan  baru terkait dengan temuan struktur batu yang sudah tersingkap.

Pada aspek pengelolaan direkomendasikan untuk melakukan pengelolaan temuan singkapan struktur batu di desa Danupayan sangat diprioritaskan mengingat masih banyak data yang perlu diungkap di lokasi ini sehingga diperlukan segera penelitian arkeologi.

2.    Temuan batu di Dusun Bantengan, Desa Kebonsari, Kecamatan Wonoboyo Temanggung
Lokasi temuan berjarak kurang lebih 33 km sebelah barat daya dari kota Temanggung. Temuan ini berada pada koordinat S 07 0 12’ 26,9” dan E 1100 01’ 56,8 pada ketinggian 873 m diatas permukaan laut. Lokasi temuan merupakan daerah perbukitan yang digunakan sebagai lahan pertanian.



( Foto  : kondisi temuan saat dilakukan peninjauan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta pada 13 Maret 2013. Sumber: Dok. Balar Yogyakarta Tahun 2013. )



( Foto: Kondisi temuan saat dilakukan peninjauan oleh Dinas Kebudayaan temanggung pada 5 Maret 2013. Sumber: Dinas Kebudayaan temanggung tahun 2013.)


Konteks temuan batu ketika dilakukan peninjauan sudah teraduk. Temuan sudah ditata sedemikian rupa oleh penduduk berupa penggabungan dua buah batu serta penataan batu lainya sehingga konteksnya sudah tidak dapat diketahui. Dalam ilmu arkeologi, selain artefak, konteks temuan merupakan data penting yang dapat membuat data lebih “berbunyi”. Temuan artefak yang sudah kehilangan konteksnya tidak akan dapat banyak memberikan informasi

Informasi yang dapat diungkap dari hasil peninjauan adalah:
  1. Bahan yang digunakan pada temuan batu ada dua macam yaitu batu andesit dan batu pasir.
  2.  Berdasarkan pada teknologi yang digunakan yaitu teknik takikan pada temuan batu ceper menunjukan bahwa temuan tersebut berasal dari masa sejarah.
  3. Jejak sayatan batu pada temuan berbahan batu andesit menunjukan adanya faktor kesengajaan untuk memotong batu menjadi beberapa bagian.
  4.  Bentuk dan karakter temuan batu  di Dusun Bantengan, Kebonsari, Wonoboyo belum dapat diketahui secara pasti.
Hasil peninjuan merekomendasikan:
Perlu dilakukan penelitian arkeologi untuk mengetahui bentuk dan karakter temuan batu di dusun Bantengan, Kebonsari, Wonoboyo untuk dapat menentukan nilai penting temuan tersebut. (alifah-hery, 2013)

- admin -
LAYANAN KAMI

BALAI ARKEOLOGI YOGYAKARTA selain melayani masyarakat di bidang informasi dan pengetahuan kearkeologian berupa publikasi seperti penerbitan, penyuluhan, pameran, film dan multimedia, juga melayani dalam bidang: 1. konsultasi tentang BCB (benda dan banggunan) 2. pelaksana penelitian arkeologi 3. studi kelayakan arkeologis 4. pendokumentasian dan penyuntingan film pengetahuan arkeologi 5. hal-hal lain yang berkaitan dengan kearkeologian .....

POLLING
Sumber media yang paling banyak Anda akses untuk mendapatkan informasi hasil penelitian arkeologi adalah: