Indonesia | English
Search :
Publikasi

Customer Support
 


Monday,27-May-2019
M S S R K J S
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  
Agenda Rutin
Jumat: Apel & Senam Pagi
Jumat setelah senam: Futsal dan Pingpong
Kamis Minggu ke-2 & 4: Latihan Arkeologi Bawah Air

Berita

Arkeologi & Publik
Video (Berbasis) Komunitas: Sebuah Alternatif Penelitian Arkeologi Partisipatif

Putri Novita Taniardi
Balai Arkeologi Yogyakarta
putri.taniardi@gmail.com


Abstrak
Hingga saat ini penyebaran informasi hasil penelitian arkeologi masih terjadi dalam lingkup yang terbatas. Sementara itu, pemikiran tentang urgensi peningkatan pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya budaya terus berkembang seiring berkembangnya diskusi mengenai Cultural Resource Management (CRM). Dalam konteks dua hal tersebut, tulisan ini berusaha mendeskripsikan peluang video komunitas sebagai alat sosialisasi penelitian arkeologi dan media peningkatan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan situs arkeologi. Melalui optimalisasi video komunitas dalam ranah arkeologi ini pula diharapkan lahir sebuah penelitian arkeologi yang partisipatif.

Kata kunci: video komunitas, penelitian arkeologi, partisipatif.

Abstract

Until now, information dissemination of archaeological research results occur within a limited scope. Meanwhile, the thinking about the urgency of increasing understanding and awareness in the management of cultural resources continues to grow with a growing discussion of the Cultural Resource Management (CRM). In the context of these two things, this paper tried to describe the opportunities of a community video as socialization tool of archaeological research and as a media that increased understanding and awareness of commnunity related to the management of archaeological sites. Through the optimization of the community video  in the realm of archeology is also expected a participatory archaeological research rising.

Keywords: community video, archaeological research, participatory


Pengantar

    Artikel pada Harian Suara Merdeka tanggal 30 Maret 2011 dengan judul “Pembersihan Candi Borobudur Libatkan Warga” menunjukkan kepedulian masyarakat pada situs bersejarah warisan dunia. Lebih dalam artikel tersebut memberitakan bagaimana sekitar 75 warga di sekitar Candi Borobudur bekerja sama dengan petugas dari Balai Konservasi Peninggalan Borobudur (BKPB) dan Unit Budaya Unesco. Aktivitas ini mencerminkan rasa kepedulian masyarakat terhadap keberadaan Candi Borobudur. Meskipun Candi Borobudur dikelola oleh instansi pemerintah, hal ini tidak menyurutkan rasa memiliki oleh para warga tersebut.

    Sebuah artikel senada diberitakan oleh Harian Suara Merdeka pada tanggal 10 April 2011 dengan judul “Cagar Budaya Semedo Terbengkalai.” Disebutkan dalam artikel ini Cagar Budaya Semedo di Desa Semedo, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal kini terbengkalai. Situs ini mulai terkuak pada tahun 2005 dan masih terus diteliti hingga saat ini. Hanya saja, barang-barang yang diduga sebagai peninggalan purbakala yang ditemukan oleh warga belum diinventarisasi hingga sekarang. Hal ini kemudian menimbulkan keresahan para warga, seperti yang tertuang dalam artikel,
“Barang-barang peninggalan zaman purbakala yang ditemukan warga sekitar tidak pernah diinventarisasi. Warga mengancam jika pemkab tidak segera membenahi, maka akan membuat museum sendiri di lokasi cagar budaya tersebut”

    Kedua artikel tersebut menunjukkan bahwa masyarakat sudah familiar dengan arkeologi. Bahkan, masyarakat cenderung peduli dengan keberadaan benda-benda cagar budaya tersebut. Hal tersebut dapat dimaklumi karena masyarakat sekitar cagar budaya sudah mengetahui dan mengakrakabi keberadaan cagar budaya yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, masyarakat yang berada jauh dari cagar budaya tersebut belum tentu berpikiran sama. Untuk itu, butuh pemahaman yang sama tentang pentingnya cagar budaya bagi masyarakat. Selama ini, penelitian arkeologi terus dilakukan untuk mengungkap kehidupan manusia pada masa lampau. Salah satu objek penelitian arkeologi adalah benda-benda cagar budaya. Penelitian arkeologi ini seharusnya membawa manfaat bagi masyarakat, tidak hanya di sekitar situs, tetapi bagi masyarakat luas pada umumnya.

    Masyarakat sekitar situs memiliki rasa ingin tahu terhadap penelitian arkeologi sebagai bentuk kepedulian mereka. Rasa keingintahuan masyarakat inilah yang harus direspon oleh arkeolog. Bagaimanapun, arkeolog memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang kegiatan penelitian yang sedang berlangsung. Melibatkan masyarakat dalam penelitian arkeologi, sekalipun pada tataran yang sangat sederhana, berarti mendekatkan masa lalu kepada masyarakat. Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya masa lampau dapat dipakai sebagai pembelajaran. Sehingga, masa lampau beserta nilai-nilainya lekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. The past is not remote but a part of daily life (Agorsah,1990). Pembelajaran atas hal tersebut adalah hal yang penting karena dari nilai-nilai yang dipelajari tersebut dapat dibuat sebuah model dalam membuat solusi permasalahan dewasa ini (Semedi, 2007).

 Pendekatan yang dilakukan oleh arkeolog ini sekaligus menjadi pintu gerbang publikasi penelitian arkeologi. Dengan komunikasi yang terjalin baik antara arkeolog dan masyarakat, perhatian terhadap situs dapat tumbuh seiring dengan tumbuhnya kepedulian masyarakat akan situs arkeologi.



Foto: Antusiasme masyarakat dalam penelitian arkeologi
Sumber: dokumentasi Priyatno Hadi S

Publikasi merupakan satu tahapan penting dalam sebuah penelitian arkeologi. Sebuah penelitian tidak ada artinya jika tidak dapat dinikmati oleh kalangan di luar lingkup peneliti itu sendiri. Ketika penelitian arkeologi ini dapat diakses oleh masyarakat, terselip harapan bahwa masyarakat dapat memetik manfaat dari adanya penelitian tersebut. Salah satu manfaat yang dapat dinikmati adalah pengetahuan. Dengan adanya penelitian arkeologi, masyarakat dapat mengetahui kehidupan manusia di masa lampau melalui benda-benda tinggalan mereka. Melalui penelitian arkeologi, benda-benda arkeologi lebih dapat bercerita. Archaeology is about excitement. It is about intellectual curiosity and finding ways to turn that curiosity into knowledge about people in the past (Gamble, 2001:1).

    Hasil penelitian arkeologi umumnya berupa karya literer dan audio visual. Hanya saja, hingga saat ini, hasil penelitian tersebut masih disuguhkan oleh arkeolog itu sendiri dan masyarakat dapat langsung menikmati hasilnya tanpa terlibat dalam proses pembuatannya. Di sisi lain, melibatkan masyarakat dalam proses publikasi hasil penelitian arkeologi dapat menggugah kepedulian mereka akan dunia seputar akeologi. Melibatkan masyarakat dalam penelitian arkeologi berarti membuka akses mereka terhadap masa lampau. By giving people access to the past, we foster appreciation of, respect for, and increased activism behalf of our irreplaceable heritage (Hoffman dalam Jameson Jr, 1997: 73).
    Salah satu media yang dapat dijadikan alternatif untuk menjembatani antara arkeolog dan masyarakat dalam proses publikasi pascapenelitian arkeologi adalah video komunitas. Melalui aktivitas ini, masyarakat digugah kesadarannya akan dunia arkeologi tanpa harus menggurui.



Selayang Pandang Video Komunitas

    Beberapa literatur menyebutkan bahwa video komunitas telah mulai dikenal sejak 1960an. Cikal bakal lahirnya ide video komunitas ini ditengarai terjadi di Pulau Fogo, Pulau kecil di lepas Pantai Timur Kanada.  Pada 1965, sebuah laporan dari Dewan Ekonomi Kanada menyebutkan adanya tingkat kemiskinan yang tinggi di kawasan itu. Down Snowden dari Uniersitas memorial Newfounland yang membaca laporan tersebut tidak setuju dengan digunakannya tolok ukur perkotaan untuk menjelaskan kemiskinan di kawasan timur Kanada tersebut. Dipicu oleh hal tersebut ia kemudian mewujudkan gagasannya untuk membuat film tentang bagaimana masayarakat Fogo, Newfounland-Kanada melihat kemiskinan dan berbagai masalah sosial lainnya (http://www.kawanusa.co.id/news-detail.php?id=5).

    Proses kerja yang dilakukan Snowden ini tidak berhenti ketika ide pembuatan fim ini menjadi kenyataan. Setelah film yang dibuat, kemudian dilakukan pemutaran ulang film tersebut diantara komunitas di Fogo. Proses ini membuat antar komunitas saling berkomunikasi dan mencoba memahami berbagai permasalahan menyangkut kemiskinan yang mereka hadapi. Dari sinilah kemudian video komunitas lahir dan menjadi alat dalam proses pendidikan dan pengorganisasian masyarakat(http://www.kawanusa.co.id/news-detail.php?id=5).

    Apa yang dilakukan Snowden di Kanada ini kemudian menyebar ke seluruh dunia. Pembuatan video komunitas ini kemudian banyak difasilitasi oleh lembaga-lembaga non pemerintah sebagai media pemberdayaan masyarakat. Secara teknis video komunitas ini biasanya dilakukan dengan cara mengajarkan masyarakat setempat teknik dasar perekaman audio visual, kemudian merekam berbagai permasalahan kehidupan yang dihadapi oleh komunitas tersebut dalam format film. Pembuatan video komunitas tidak berhenti ketika film yang direncanakan dapat diselesaikan. Justru setelah film ini dihasilkan proses belajar baik di dalam komunitas pembuat film itu sendiri maupun dengan komunitas lain dilakukan dengan pemutaran film ulang dan diskusi antar orang(http://www.kawanusa.co.id/news-detail.php?id=5)..

    Pada 1990-an, berbagai program pembuatan video komunitas telah banyak dilakukan di Indonesia. Sebagaimana di negara-negara lain, program pembuatan video komunitas juga banyak dimotori oleh lembaga-lembaga non-pemerintah. Sebagai contoh, di Maluku Jaringan balieo Maluku bekerjasama dengan South East Asia Communication Program (SEACP) menjadi motor dalam pembuatan video komunitas bagi masyarakat Kei, Maluku(http://www.kawanusa.co.id/news-detail.php?id=5).Sementara di Yogyakarta, tercatat lembaga-lembaga seperti Kampung Halaman maupun Etnoreflika yang melakukan kegiatan serupa bersama komunitas dampingan mereka.

Video Komunitas Sebagai Ruang Belajar Bersama

    Salah satu inti dari video komunitas bukanlah hasil film yang dihasilkan melainkan proses dari pembuatan video serta pembelajaran yang dilakukan dari komunitas yang bersangkutan setelah film tersebut selesai dibuat. Dalam video komunitas teknik perekaman baku yang biasa digunakan dalam pembuatan film secara profesional bukanlah menjadi faktor utama. Dalam proses ini yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat mampu mengidentifikasi dan menuangkan gagasan atas berbagai permasalahan mereka dalam format rekaman audio visual dan kemudian melakukan pembelajaran bersama untuk membangun alternatif solusi dalam memecahkan permasalahan tersebut.

    Dengan demikian salah satu inti dari proses pembuatan video komunitas adalah sebagai ruang belajar—baik bagi komunitas pembuat film tersebut maupun bagi lembaga atau pihak yang menjadi fasilitator dalam proses pembuatan video komunitas tersebut. Bagi masyarakat pembuatnya, video komunitas dapat menciptakan ruang untuk mengenali permasalahan yang seringkali terlupakan dalam kesadaran mereka dan mendorong terciptanya kesempatan untuk berdiskusi menyelesaikan permasalahan tersebut. Sementara itu, pihak yang memfasilitasi sebuah program video komunitas pun mendapatkan peluang untuk dapat meneliti dan menemu kenali gagasan masyarakat akan sebuah permasalahan. Pemahaman atas hal ini adalah penting sebagai modal dalam melakukan aktivitas pemberdayaan dan pembangunan masyarakat. Interaksi antara masyarakat setempat dengan pihak luar sebagai fasilitator dalam proses pembuatan video komunitas ini juga membuka ruang belajar bersama dalam melihat dan menyelesaikan sebuah permasalahan. Dengan proses semacam inilah kemudian video komunitas seringkali dikenal dengan video partisipatif dimana masyarakat yang seringkali hanya ditempatkan sebagai “penerima” kebijakan didorong untuk mampu menyelesaikan permasalahan dengan kemampuan mereka.

    Video komunitas dapat juga menjadi ruang belajar bagi arkeolog dan masyarakat. Selama ini, pelibatan masyarakat dalam sebuah penelitian arkeologi masih terbatas. Padahal, dalam sebuah penelitian arkeologi, masyarakat di sekitar situs seringkali memiliki rasa ingin tahu yang besar akan aktivitas yang dilakukan oleh arkeolog. Informasi yang sampai pada masyarakat masih berupa sosialisasi tentang kegiatan penelitian yang akan dilangsungkan. Bila ditelisik lebih jauh, masyarakat punya hak untuk mengetahui lebih lanjut, karena penelitian tersebut dilakukan di sekitar tempat tinggal mereka. Dengan adanya video komunitas, penelitian arkeologi tahap akhir, dapat dipungkasi dengan adanya interaksi antara arkeolog dan masyarakat.

    Sebuah penelitian arkeologi mau tidak mau harus dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat. Video komunitas ini memberikan alternatif untuk dijadikan ruang belajar bersama. Pada tahap akhir penelitian arkeologi di sebuah situs, arkeolog dapat mengkomunikasikan pembuatan video komunitas ini kepada masyarakat. Bentuk komunikasi dapat dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD).
Dalam FGD ini, masyarakat diberi informasi tentang kegiatan penelitian arkeologi yang sudah diselesaikan di situs tersebut. Masyarakat kemudian diminta untuk menggali nilai penting dari keberadaan situs melalui sudut pandang mereka sendiri. Dalam tahap ini, arkeolog sebaiknya tidak menggurui masyarakat tentang nilai penting situs yang baru saja diteliti. Masyarakat dibiarkan untuk menginterpretasi nilai penting sebuah situs melalui pemahaman mereka. Ketika FGD berlangsung, arkeolog dapat menawarkan video komunitas ini sebagai media pembelajaran bersama. Ketika dicapai kesepakatan, barulah proses pembelajaran dimulai.


Baik arkeolog maupun masyarakat memulai proses belajarnya di sini. Arkeolog harus mampu menahan diri untuk tidak menggurui meskipun menguasai pengetahuan tentang arkeologi. Demikian juga masyarakat, harus dapat belajar menggali pengetahuan tentang situs arkeologi sesuai kemampuan mereka. Dalam proses ini, pergeseran paradigma pelestarian sumberdaya arkeologis pun terlihat nyata, dari yang dulunya hanya semata-mata memperhatikan pelestarian fisik saja bergeser pada kepedulian terhadap kebermaknaan sosial (social significance) dari tinggalan arkeologis itu sendiri (Prasodjo, 2004). Sebuah penelitian arkeologi tentunya diharapkan bermuara pada upaya pelestarian situs itu sendiri.



Foto: Focus Group Discussion (FGD)
Sumber: Dokumentasi Bakti Utama

Video Komunitas: Alternatif Penelitian Arkeologi Partisipatif

    Dalam ranah penelitian arkeologi, video komunitas memliki peluang besar untuk dioptimalkan. Hal ini setidaknya didasari oleh dua hal. Pertama, berbagai penelitian arkelologi hingga saat ini belum dapat disosialisasikan secara audio visual kepada masyarakat secara luas. Kedua, semakin berkembangnya studi dan diskusi tentang Cultural Resource Management (CRM) dalam dunia arkelologi yang di dalamnya juga menekankan pentingnya peran komunitas setempat dalam pengelolaan sebuah sumber daya budaya.

    Terdapat tiga pihak utama yang berperan dalam perkembangan arkeologi, terutama di Indonesia, yaitu pihak akademisi, pihak pemerintah, dan pihak publik atau masyarakat.  Ketiganya mempunyai peran yang sangat menentukan bagi keberlangsungan arkeologi (Prasodjo,2004). Pihak akademisi dan pemerintah selama ini telah menjadi pioner dalam memajukan perkembangan arkeologi. Langkah-langkah strategis berupa penelitian dan pengelolaan dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Seiring dengan semakin majunya kajian yang dilakukan oleh pihak akademisi dan pemerintah, masyarakat pun tidak mau ketinggalan dalam mengambil peranan di bidang sumberdaya arkeologi. Peran masyarakat semakin lama justru semakin meningkat, terutama akhir-akhir ini pada saat mainstream pemikiran di luar arkeologi pun sangat kental dalam memperhatikan kepentingan masyarakat dalam segala hal. Lebih-lebih dalam kajian CRM sumberdaya arkeologi  dipandang merupakan “milik” masyarakat, sehingga masyarakatlah yang dipandang (Prasodjo,2004).

    Peran masyarakat dan pengelolaan sumberdaya arkeologi tidak dapat diabaikan lagi. Dengan adanya partisipasi masyarakat, sumberdaya arkeologi dapat terjaga kelestariannya. Sebuah pengelolaan sumberdaya budaya yang partisipatif, perlu mencermati kondisi-kondisi yang mendorong adanya partisipasi. Pertama, partisipasi masyarakat akan terdorong jika masyarakat merasa bahwa aktivitas yang akan dijalankan merupakan hal yang penting. Kedua, masyarkat harus merasa bahwa tindakan mereka akan membawa perubahan. Ketiga, harus ada penghargaan atas berbagai bentuk partisipasi masyarakat. Keempat, setiap anggota masyarakat harus dimungkinkan untuk bisa berpartisipasi dan terdapat dukungan atas partisipasi tersebut. Kelima, struktur dan proses partisipasi jangan sampai mengucilkan masyarakat (Ife dan Tesoriero, 2008 :310-312). Dengan dipenuhinya kelima kondisi tersebut, sebuah konsep pengelolaan sumberdaya yang partisipatif diharapkan akan berjalan optimal.

    Dorongan lembaga-lembaga penelitian arkeologi—baik pemerintah maupun non pemerintah—untuk membuat sebuah program video komunitas mengenai situs arkelogi merupakan salah satu langkah strategis untuk menyosialisasikan hasil penelitian arkelogi. Komunitas dalam hal ini terutama adalah masyarakat di sekitar situs arkelologi. Melalui proses semacam ini akan terjadi tukar pemahaman antara masyarakat disekitar situs dengan arkeolog mengenai pengetahuan tentang situs arkelologi tersebut. Proses inilah yang akan membuka pengetahuan masyarakat mengenai situs arkelologi. Selanjutnya, berbekal pengetahuan dan gagasan tentang situs arkelologi masyarakat akan membuat film berkaitan dengan situs arkelologi di kawasan mereka tersebut. Hasil kerja mereka berupa film ini kemudian dapat dinikmati baik oleh masyarakat setempat maupun masyarakat lainnya. Hal ini tentu saja akan melahirkan efek berkelanjutan di mana pemahaman dan diskusi akan mengenai situs arkelogi akan terus berjalan.

    Dalam konteks semakin pesatnya perkembangan studi Cultural Resource Management (CRM), pembuatan video komunitas setidaknya memiliki dua arti penting. Pertama video komunitas merupakan alat yang efektif untuk menggali dan melihat gagasan masyarakat gagasan masyarakat tentang keberadaan suatu situs di kawasan mereka. Dalam CRM dimana masyarakat dipandang memiliki peran sentral dalam pengelolaan sebuah sumber daya budaya maka studi untuk melihat gagasan masyarakat tentang sebuah situs adalah hal yang penting. Kedua, proses pembuatan video komunitas tentu saja akan mendorong pemahaman dan kesadaran akan pentingnya pengelolaan situs arkelologi bagi masyarakat setempat.

    Dengan menggarisbawahi hal-hal di atas, maka optimalisasi video komunitas dalam penelitian arkeologi tentunya akan mendorong terwujudnya penelitian arkelologi yang partisipatif. Dalam pengertian ini, selain pemahaman akan keberadaan sebuah situs akan lebih tersebar, masyarakat juga akan terdorong untuk berpartisipasi dalam pengelolaan situs-situs arkeologi di sekitar mereka.


Penutup

    Video komunitas merupakan ruang belajar yang efektif bagi arkeolog dan masyarakat. Melalui video komunitas ini arkeolog dan masyarakat dapat belajar bersama tentang arkeologi. Video komunitas juga dapat menjadi sarana yang kokoh untuk menjembatani masyarakat dan masa lalu. Dengan adanya video komunitas ini, masa lalu tidak lagi terasa jauh dan asing, tetapi dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Video komunitas juga memberikan ruang yang longgar bagi masyarakat untuk memaknai arkeologi melalui sudut pandang mereka sendiri. Sehingga, rasa kepedulian akan arkeologi dan benda cagar budaya dapat tumbuh dengan sendirinya tanpa harus menggurui masyarakat setiap hari.

    Konsep video komunitas pada dasarnya adalah konsep tentang partisipatif. Metode partisipatif sudah umum digunakan oleh bidang kajian ilmu sosial lain. Tidak ada salahnya jika arkeologi mulai mengadopsi metode ini dalam penelitian. Dengan melibatkan masyarakat dalam penelitian arkeologi, masyarakat juga digugah kesadarannya akan pentingnya belajar tentang masa lalu. Melalui pembelajaran ini, arkeologi tidak lagi eksklusif milik arkeolog saja, tetapi dapat dimiliki oleh masyarakat luas.

    Tulisan ini merupakan sebuah alternatif bagi penelitian arkeologi yang partisipatif. Sebuah penelitian arkeologi murni tetap menjadi sebuah prioritas dan syarat utama adanya video komunitas ini. Setelah penelitian arkeologi selesai dikerjakan, video komunitas dapat dijadikan tahap akhir penelitian arkeologi, sekaligus sebagai media publikasi dan sosialisasi. Meskipun demikian, kritik dan masukan masih sangat dibutuhkan demi sempurnanya konsep ini.


Daftar Pustaka

Agorsah, E. Kofi. 1990. The Search for a Self-Corrective Approach to the Study of Past Human Behavior dalam  The African Archaeological Review, Vol. 8 (1990), pp. 189-208. Anonym : Springer

Gamble, Clive. 2001. Archaeology: The Basics. UK: London

Hoffman, Teresa L dalam Jameson Jr, John H. 1997. The Role of Public Participation:Arizona’s Public Archaeology Program dalam Presenting Archaeology to the Public, Digging for Truths. California: Altamira Press

Ife, Jim dan Tesoriero, Frank. 2008. Alternatif Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi Community Development. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Prasodjo, Tjahjono. 2004. Arkeologi Publik. Makalah dalan Pelatihan Pengelolaan Sumberdaya Arkeologi Tingkat Dasar Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata

Semedi, Pujo. 2007. Mantra Pos-Modern Bernama Kearifan Lokal, makalah seminar “Dialog Budaya Dayak”. Pontianak: Tidak dipublikasikan.


Suara Merdeka tanggal 30 Maret 2011. Pembersihan Candi Borobudur Libatkan Warga

Suara Merdeka tanggal 10 April 2011. Cagar Budaya Semedo Terbengkalai



Penelusuran internet

http://www.kawanusa.co.id/news-detail.php?id=5

( Putri Novita )














 







- Admin -
LAYANAN KAMI

BALAI ARKEOLOGI YOGYAKARTA selain melayani masyarakat di bidang informasi dan pengetahuan kearkeologian berupa publikasi seperti penerbitan, penyuluhan, pameran, film dan multimedia, juga melayani dalam bidang: 1. konsultasi tentang BCB (benda dan banggunan) 2. pelaksana penelitian arkeologi 3. studi kelayakan arkeologis 4. pendokumentasian dan penyuntingan film pengetahuan arkeologi 5. hal-hal lain yang berkaitan dengan kearkeologian .....

POLLING
Sumber media yang paling banyak Anda akses untuk mendapatkan informasi hasil penelitian arkeologi adalah: