Indonesia | English
Search :
Publikasi

Customer Support
 


Monday,27-May-2019
M S S R K J S
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  
Agenda Rutin
Jumat: Apel & Senam Pagi
Jumat setelah senam: Futsal dan Pingpong
Kamis Minggu ke-2 & 4: Latihan Arkeologi Bawah Air

Berita

Arkeologi & Publik
SARANA PERTAHANAN JEPANG DI MADURA PADA PERANG DUNIA II


Jepang memulai Perang Pasifik untuk mendukung usahanya dalam membangun Imperium di Asia. Invasi ke Hindia Belanda berkaitan dengan usaha Jepang untuk menguasai daerah-daerah penghasil bahan baku industri guna mendukung perang tersebut. Pada tanggal 10 Januari 1942, Tarakan jatuh ke tangan Jepang, yang disusul Balikpapan, Pontianak dan Banjarmasin hingga satu bulan kemudian. Setelah Palembang diduduki pada tanggal 16 Februari 1942, Jepang mendaratkan Divisi 2 di Jawa Barat dan Divisi 48 di Jawa Tengah dekat perbatasan dengan Jawa Timur. Pasukan ini dipimpin oleh Letjen Hitoshi Imamura yang membawahi komando Tentara 16 atau dikenal dengan Osamu Butai.

Balai Arkeologi Yogyakarta sebelumnya telah melakukan penelitian sarana pertahanan Jepang di beberapa kabupaten, baik di DI Yogyakarta, maupun di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Penelitian kali ini dipimpin oleh M. Chawari dan dilaksanakan pada tanggal 7 – 16 Oktober 2014 di Kabupaten Sumenep dan Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Penelitian ini dilaksanakan karena berbagai sarana pertahanan Jepang di kedua wilayah tersebut belum pernah didata secara lengkap. Selain itu, penelitian ini juga akan mengidentifikasi tipologi sarana pertahanan Jepang dan aksesibilitas yang menghubungkan setiap sarana pertahanan tersebut di wilayah Sumenep dan Bangkalan.

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, sarana pertahanan Jepang di Pulau Jawa dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu; sarana pertahanan yang bersifat defensif dan sarana pertahanan yang bersifat ofensif. Sarana pertahanan yang bersifat defensif dibuat dengan cara melubangi dinding bukit secara horizontal, dan dikenal dengan istilah Gua Jepang. Sementara itu, sarana pertahanan yang bersifat ofensif dibuat dengan cara dicor dengan memakai bahan baku batu kerikil, pasir, dan semen. Sarana pertahanan ini dikenal sebagai Bunker Jepang.

Softwan

- Admin -
LAYANAN KAMI

BALAI ARKEOLOGI YOGYAKARTA selain melayani masyarakat di bidang informasi dan pengetahuan kearkeologian berupa publikasi seperti penerbitan, penyuluhan, pameran, film dan multimedia, juga melayani dalam bidang: 1. konsultasi tentang BCB (benda dan banggunan) 2. pelaksana penelitian arkeologi 3. studi kelayakan arkeologis 4. pendokumentasian dan penyuntingan film pengetahuan arkeologi 5. hal-hal lain yang berkaitan dengan kearkeologian .....

POLLING
Sumber media yang paling banyak Anda akses untuk mendapatkan informasi hasil penelitian arkeologi adalah: