Indonesia | English
Search :
Publikasi

Customer Support
 


Wednesday,23-August-2017
M S S R K J S
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31  
Agenda Rutin
Jumat: Apel & Senam Pagi
Jumat setelah senam: Futsal dan Pingpong
Kamis Minggu ke-2 & 4: Latihan Arkeologi Bawah Air

Berita

Penelitian
EKSPLORASI TINGGALAN ARKEOLOGI DI LERENG UTARA GUNUNG MURIA

Gunung Muria yang berada di wilayah propinsi Jawa Tengah ini seperti banyak gunung di Pulau Jawa ini juga dijumpai tinggalan arkeologi. Tinggalan arkeologi yang dijumpai pada gunung-gunung di Jawa berupa tinggalan arkeologi yang bercorak budaya megalitik maupun bercorak pengaruh Hindu-Buddha. Gunung Muria yang wilayahnya meliputi 3 kabupaten yaitu Jepara, Pati, dan Kudus mengacu hasil inventarisasi BPCB (d/h BP3) Jawa Tengah tahun 1988 diperoleh informasi bahwa di lereng utara Gunung Muria (Jepara) dan di lereng selatan Gunung Muria (Kudus) dijumpai beberapa tinggalan arkeologi.

Di lereng utara Gunung Muria yang berada di Jepara dijumpai bangunan berundak yang terletak di puncak bukit yang disebut Candi Angin 1 dan Candi Angin 2 serta temuan empat buah menhir. Di lereng selatan Gunung Muria yang berada di Kudus dijumpai beberapa petilasan dan temuan lepas berupa yoni, lumpang batu, lumpang batu persegi, dan lingga.

Mengacu pada hasil inventarisasi BPCB Jateng diperoleh informasi bahwa kawasan Gunung Muria mempunyai potensi tinggalan arkeologi yang cukup signifikan terutama di lereng sisi utara. Berdasarkan uraian tersebut maka kegiatan eksplorasi tinggalan arkeologi di lereng Utara Gunung Muria ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dan ragam data arkeologi di kawasan lereng utara Gunung Muria dengan sasaran tinggalan arkeologi berupa data monumental maupun artefaktual (temuan lepas).

Kegiatan eksplorasi tinggalan arkeologi di lereng Utara Gunung Muria ini yang dilaksanakan pada tanggal 26 Juli – 4 Agustus 2016 ini berlokasi di Desa Tempur Kecamatan Keling Kabupaten Jepara. Berikut deskripsi hasil eksplorasi tinggalan arkeologi di lereng Utara Gunung Muria ini:

a. Tinggalan Arkeologi / Cagar Budaya
Tinggalan arkeologi yang dijumpai berbentuk monumental maupun artefaktual (temuan lepas) yaitu:

Candi Angin di Dukuh Duplak
Candi Bubrah di Dukuh Duplak
Candi Aso di Dukuh Duplak
Kolam Batu di Sumur Batu di Dukuh Duplak
Prasasti, arca terakota, dan artefak lainnya di rumah juru pelihara candi Angin di Dukuh Duplak
Yoni dan arca di Punden Mbah Romban di Dukuh Petung
 
b. Fitur Alam / Cagar alam (Geosites)

Keberadaan data fitur alam ini berkiatan dengan aktivitas manusia (budaya) yang dijumpai yaitu:

1. Watu Tumpuk di dukuh Kemiren
2. Watu Gambang di perbatasan Duplak – Sumanding
3. Tempuran Kali/Sungai di Dukuh Petung
4. Lumpang (Duplak) di Sumur Batu di Dukuh Duplak

c. Data Etnografi

Keberadaan lokasi-lokasi yang masih dianggap sakral oleh masyarakat Desa Tempur untuk ritual sedekah bumi yaitu:
1. Punden Mbah Romban di Dukuh Petung
2. Sumur Batu / Punden Mbah Eyang Dhono di Dukuh Duplak
3. Punden Mbah Robyong di Dukuh Duplak
4. Punden Eyang Abiyoso di Dukuh Pekoso

Berdasarkan hasil Eksplorasi Tinggalan Arkeologi di Lereng Utara Gunung Muria untuk sementara menghasilkan kesimpulan yaitu:

Lereng Utara Gunung Muria yang berada wilayah Desa Tempur Kecamatan Keling Kabupaten Jepara memiliki tinggalan arkeologi (cagar budaya), fitur alam (cagar alam), serta data etnografi yang cukup signifikan secara kuantitas (jumlah), kualitas, serta sebaran lokasi data.
Dalam kerangka historiografi, tinggalan arkeologi Lereng Utara Gunung Muria yang berada wilayah Desa Tempur ini diduga berada pada lintasan masa sejarah (pengaruh Hindu-Buddha) yaitu era Majapahit dengan data artefaktual berupa ornamen bangunan dan arca (figurin) dari terakota yang cukup dominan.

Berdasarkan hasil Eksplorasi Tinggalan Arkeologi di Lereng Utara Gunung Muria untuk sementara menghasilkan rekomendasi yaitu:
a. Bidang Penelitian

Dipandang perlu melakukan survei arkeologi di wilayah Gunung Muria dengan area wilayah kabupaten Jepara, Pati dan Kudus dikarenakan lokasi ini merupakan lokasi dengan tinggalan arkeologi yang cukup banyak namun belum banyak dieksplorasi
Dipandang perlu melakukan ekskavasi di Candi Angin – Candi Bubrah – Candi Aso dengan mengacu pada hasil temuan artefaktual maupun arsitektural yang cukup signifikan. Kegiatan penelitian ini dikoordinasikan dengan Balai Arkeologi D.I. Yogyakarta dan atau Departemen Arkeologi FIB UGM.
b. Bidang Pelestarian

Dipandang perlu melakukan penyelamatan dan perlindungan Candi Angin – Candi Bubrah – Candi Aso terutama temuan prasasti Candi Angin yang dikoordinasikan antara BPCB Jawa Tengah dengan Dinas Pariwisata & Kebudayaan Kabupaten Jepara. Hal ini perlu dilakukan karena tinggalan arkeologi di lokasi tersebut cukup rawan untuk tindakan pengrusakan dan pencurian.

Dipandang perlu memasang papan nama candi dan papan larangan di Candi Bubrah dan Candi Aso

Dipandang perlu pengadaan etalase kaca / vitrin untuk display temuan lepas yang tersimpan di rumah juru pelihara Candi Angin yang dikoordinasikan dengan Dinas Pariwisata & Kebudayaan Kabupaten Jepara.

(HP_HW_ZDS-2016)


Candi Angin


figurin terakota dari candi bubrah


kali tempuran


lokasi candi bubrah dan angin

watu tumpuk di dukuh kemiren


yoni dan ganesha di Punden Mbah Romban



Prasasti Candi Angin

- Admin -
LAYANAN KAMI

BALAI ARKEOLOGI YOGYAKARTA selain melayani masyarakat di bidang informasi dan pengetahuan kearkeologian berupa publikasi seperti penerbitan, penyuluhan, pameran, film dan multimedia, juga melayani dalam bidang: 1. konsultasi tentang BCB (benda dan banggunan) 2. pelaksana penelitian arkeologi 3. studi kelayakan arkeologis 4. pendokumentasian dan penyuntingan film pengetahuan arkeologi 5. hal-hal lain yang berkaitan dengan kearkeologian .....

POLLING
Sumber media yang paling banyak Anda akses untuk mendapatkan informasi hasil penelitian arkeologi adalah: