Indonesia | English
Search :
Publikasi

Customer Support
 


Sunday,26-October-2014
M S S R K J S
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  
Agenda Rutin
Jumat: Apel & Senam Pagi
Jumat setelah senam: Futsal dan Pingpong
Kamis Minggu ke-2 & 4: Latihan Arkeologi Bawah Air

Berita

Arkeologi & Publik
MAKAM RATU MAS MALANG YANG MALANG

MAKAM RATU MAS MALANG YANG MALANG

Komplek Makan Ratu mas Malang merupakan salah satu situs tinggalan dari Amangkurat I atau Amangkurat Agung yang berada di Desa Pleret, Kec.Pleret, Kab. Bantul, DIY pada koordinat S 07°52'13,0" E110°24'37,5". Amangkurat I adalah Raja Mataram Islam Putra dari Sultan Agung Hanyokrokusumo yang  memerintah pada tahun 1646-1677 dan berkraton di Pleret.

Makam Ratu Mas Malang atau Makam Gunung Kelir  dibangun pada tahun 1665 dan selesai pada tanggal 11 Juni 1668 dengan menggunakan bahan bangunan berupa batu putih untuk dinding dan tembok keliling serta batu andesit untuk nisan. Komplek Makam Ratu Mas Malang terletak dipuncak sebuah bukit yaitu Gunung kelir dengan ketinggian 99 m dpl. Pada komplek makam ini terdapat 28 nisan, yang dikelompokan dalam 3 lokasi yaitu 19 nisan berada dihalaman depan, 1 nisan berada dihalaman belakang (nisan Dalang Panjang Mas) dan 8 nisan berada di halaman inti yang salah satunya merupakan nisan dari Ratu Mas Malang.


Ratu Mas Malang merupakan istri dari Amangkurat I, dalam Babad Tanah Jawi diceritakan, sebelumnya Ratu Mas Malang merupakan istri dari Dalang Panjang Mas atau Anjang Mas, seorang dalang keraton yang hidup sejak masa Panembahan Sedo Krapyak. Amangkurat I terpikat oleh Ratu Mas Malang dan meminta Dalang Panjang Mas untuk menyerahkan istrinya, permintaan tersebut ditolak sehingga Dalang Panjang Mas dibunuh dan jasatnya dimakamkan di Gunung Kelir. Ratu Mas Malang kemudian menjadi selir Amangkurat I, namun karena sayangnya maka kemudian Ratu Mas Malang diangkat menjadi Permaisuri. Ratu Mas Malang meninggal pada tahun 1665 yang diduga karena diracun oleh orang-orang disekitarnya, hal tersebut menimbulkan kemarahan dari Amangkurat I sehingga mengurung istri-istrinya yang lain didalam kamar tanpa makan. Setelah kematiannya jasat Ratu Mas Malang tidak segera dikuburkan namun ditunggui oleh Amangkurat I hingga pada suatu malam Amangkurat I bermimpi bahwa Ratu Mas Malang sudah berkumpul dengan Dalang Panjang Mas.  Mimpi tersebut menyadarkan perbuatannya yang sudah memisahkan Ratu Mas Malang dengan suaminya, Dalang Panjang mas.

Amangkurat I kemudian menguburkan Ratu Mas Malang di Gunung Kelir dan kemudian membangun komplek makam tersebut dengan tembok keliling dari batu putih. Berdasarkan penelitian oleh BP3 DIY tebal tembok keliling antara 120-155 cm dan tinggi Tembok keliling mencapai 200 cm. Makam Gunung Kelir oleh Amangkurat I kemudian disebut sebagai Antaka Pura yang berarti istana kematian.


Masyarakat sekitar masih mengkeramatkan makam tersebut, namun kondisi makam kini sudah rusak, yang terutama disebabkan oleh faktor alam. Banyaknya akar-akar tanaman keras yang merusak tembok makam. Juga tumbuhnya mikroorganisme seperti alga, moss dan lichen di tembok dan dinding telah memperparah kerusakan makam tersebut.  (Alifah)

LAYANAN KAMI

BALAI ARKEOLOGI YOGYAKARTA selain melayani masyarakat di bidang informasi dan pengetahuan kearkeologian berupa publikasi seperti penerbitan, penyuluhan, pameran, film dan multimedia, juga melayani dalam bidang: 1. konsultasi tentang BCB (benda dan banggunan) 2. pelaksana penelitian arkeologi 3. studi kelayakan arkeologis 4. pendokumentasian dan penyuntingan film pengetahuan arkeologi 5. hal-hal lain yang berkaitan dengan kearkeologian .....

POLLING
Menurut anda apakah situs - situs kuno diberbagai daerah di seluruh Indonesia sudah ditanggani dengan baik ?