Indonesia | English
Search :
Publikasi

Customer Support
 


Saturday,17-November-2018
M S S R K J S
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30  
Agenda Rutin
Jumat: Apel & Senam Pagi
Jumat setelah senam: Futsal dan Pingpong
Kamis Minggu ke-2 & 4: Latihan Arkeologi Bawah Air

Berita

Penelitian
KAMPUNG ARAB DI KOTA SEMARANG DAN SURAKARTA

KAMPUNG ARAB DI KOTA SEMARANG DAN SURAKARTA

 

Sebuah penelitian yang didasari oleh adanya isu, bahwa di beberepa kota di Jawa Tengah terdapat  kelompok etnis Arab atau keturunan bangsa Arab yang tinggal di beberapa kota yang kemudian terbentuklah suatu perkampungan yang dikenal dengan Kampung Arab.

 Dari hasil pengamatan melalui survei dilapangan, menunjukkan bahwa di Kota Semarang secara administratif tidak terdapat Kampung Arab, tetapi terdapat suatu komunitas etnis Arab yang sebagian besar berada  di jalan Petek dan jalan Layur, Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. Berdasarkan data kependudukan tahun 2008 lalu jumlah penduduk yang beretnis Arab di Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara berjumlah 312 jiwa. Akan tetapi bukan berarti bahwa etnis Arab hanya ada di Kelurahan Dadapsari saja, secara parsial etnis arab berada di beberapa wilayah di kota Semarang, seperti di Kauman, Pekojan dan Petolongan. Komunitas etnis Arab tersebut sejak dulu telah bergabung dengan beberapa etnis  lain, seperti Banjar Bugis, melayu di sebuah perkampungan yang sejak jaman dulu dikenal sebagai kampung Melayu. Meskipun demikian keberadaan etnis Arab di Semarang telah meniggalkan budaya  materi (tinggalan- tinggalan arkeologis), berupa Masjid, makam, rumah tinggal dan naskan-naskah kuna.

Masjid kuna di kampung tersebut dikenal dengan sebutan Masjid Menara yang terdiri dari dua bangunan inti yaitu bangunan masjid dan menara. Masjid Menara dibangun oleh masyarakat etnis Arab yang tinggal di wilayah tersebut dan terletak di sebelah barat kali Semarang pada jarak sekitar 2 meter. Bangunan masjid terdiri dari dua lantai yang  terbuat dari bahan  lepa dan kayu. Lantai bawah berfungsi sebagai tempat wudhu dan lantai atas berfungsi untuk pelaksanaan ibadah shalat. Atap masjid  dibuat dengan bentuk atap tumpang, dan di bagian bawah atap ditutup dengan papan kayu.  Arah hadap masjid menghadap ke selatan dengan satu pintu sedangkan di sebelah timur terdapat satu pintu untuk keluar masuk dari ruang inti masjid ke serambi dan sebaliknya. Tidak diketahui secara pasti, berapa kali masjid Menara tersebut dipugar. Berdasarkan informasi dari narasumber bahwa bangunan masjid terakhir kali dipugar pada tahun 1986. Di dalam masjid tersebut dulu pernah ditemukan sebuah inskripsi yang terbuat dari bahan kayu jati  yang memuat angka tahun 1802 M. Akan tetapi inskripsi tersebut saat ini keberadaannya tidak jelas.

 

Sejak awal berdirinya bangunan masjid hingga sekarang belum pernah digunakan untuk shalat jum,’at, tetapi dipakai untuk pelaksanaan jama’ah shalat lima waktu , shalat tarawih , shalat idul-Fiti dan shalat Idul-Adha. Di bagian atap yang tertutup dengan papan kayu jati setebal 3 sentimeter  ditemukan sejumlah naskah kuna berupa naskah Al-Qur’an dan naskah agama. Naskah tersebut merupakan naskah asli tulisan tangan yang ditulis di atas kertas   buatan Eropa sekitar abad XIX Masehi dengan menggunakan tinta warna hitam dan merah.


Bangunan kuna yang berfungsi sebagai rumah tinggal etnis Arab di Semarang secara arsitektural  tidak memiliki ciri khusus.  Bangunan yang ada terdiri dari bangunan dengan konsep dua buah ruang tamu yang terpisah antara tamu laki-laki dan perempuan serta kamarkecil yang terdapat di bagian depan bangunan atau dekat dengan ruang tamu laki-laki. Sedangkan ruang tamu perempuan terdapat di bagian belakang  beserta kamar kecil untuk keluarga.

Khusus untuk etnis Arab yang memiliki keluarga besar, selain komponen-komponen bangunan tersebut di atas juga telah dibangun beberapa rumah secara berjajar , bergandengan tanpa jarak. Di bagian belakang rumah (dapur) dibuat pintu-pintu  yang menembus antara satu rumah ke rumah yang lain. Pintu-pintu tersebut berfungsi sebagai tempat lewat para wanita yang hendak berbelanja (kepentingan keluarga).

Bagi warga etnis Arab di Semarang yang meninggal  mayoritas dimakamkan di kompleks pemakaman umum kota Semarang, yaitu dikompleks makam Bergota. Di kompleks makam ini ini tidak begitu nampak adanya eksklusivitas bagi etnis Arab, meskipun ada beberapa makam yang ditata secara berkelompok. Akan tetapi hal itu masih dalam batas satu keluarga. Bahkan dalam hal pemberian tanda pada kubur  tidak terdapat perbedaan yang mencolok dengan tanda kubur bagi makam pribumi ataupun etnis yang lain. Hal demikian menunjukkan adanya upaya bagi etnis Arab untuk membaur dengan masyarakat setempat .

Sementara itu di kota Surakarta terdapat suatu perkampungan Arab, yang menempati tiga wilayah kelurahan, yaitu Kelurahan Pasar Kliwon, Kelurahan Semanggi dan Kelurahan Kedung Lumbu, Kecamatan Pasar Kliwon atau berada disebelah timur tembok Baluwarti Kraton Surakarta. Penempatan kampung Arab secara berkelompok tersebut sudah diatur sejak jaman dulu untuk mempermudah pengurusan bagi etnis asing di Surakarta dan demi terwujudnya ketertiban dan keamanan. Tinggalan arkeologi Kampung arab di Surakarta tersebut adalah kampung arab itu sendiri, Kompleks makam Arab di Tipes dan naskah naskah kuna .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAYANAN KAMI

BALAI ARKEOLOGI YOGYAKARTA selain melayani masyarakat di bidang informasi dan pengetahuan kearkeologian berupa publikasi seperti penerbitan, penyuluhan, pameran, film dan multimedia, juga melayani dalam bidang: 1. konsultasi tentang BCB (benda dan banggunan) 2. pelaksana penelitian arkeologi 3. studi kelayakan arkeologis 4. pendokumentasian dan penyuntingan film pengetahuan arkeologi 5. hal-hal lain yang berkaitan dengan kearkeologian .....

POLLING
Sumber media yang paling banyak Anda akses untuk mendapatkan informasi hasil penelitian arkeologi adalah: