Dentuman meriam empat kali justru tidak menggetarkan hati, tetapi mengiringi perasaan haru. Ya, karena itulah tanda pecahnya rekor dunia baru untuk selam massal, Guinness World Record. Indonesia adalah negara ke-empat yang memecahkan rekor ini sehingga meriam berdentum 4 kali. Nyaris tak dapat menahan haru saat secara resmi diumumkan bahwa Peselam Indonesia pada tanggal 16 Agustus 2009 telah memecahkan rekor dunia selam massal, yaitu sebanyak 2.465 peselam di kedalaman antara 10 hingga 22 meter dalam waktu 29 menit di Malalayang, Manado. Bukan hanya itu, dalam penyelaman itu juga diperagakan pelajaran selam dasar, yaitu mask clearing dan regulator recovery masing-masing dengan dua teknik. Artinya, di bawah laut, di dalam formasi, setiap peselam memperagakan empat pelajaran dasar selam.
Peselam kontingen Jogja menjelang descend
Balai Arkeologi Yogyakarta yang secara khusus diminta untuk berpartisipasi dalam acara itu oleh Danlanal (Komandan Pangkalan Angakatan Laut) Yogyakarta, telah mempersiapkan diri, terutama mental dan fisik. Rangkaian persiapan ini termasuk berlatih bersama 300 peselam di Pasir Putih, Situbondo, Jawa Timur beberpa waktu yang lalu. Unit selam Balar Jogja memang telah memiliki jaringan yang luas, antara lain dengan TNI AL, POSSI, dan unit-unit selam lain di Indonesia.
Oleh karena itu, pecahnya rekor dunia selam yang merupakan bagian dari kegiatan nasional Sail Bunaken 2009 di pantai Malalayang, Manado ini bukan hanya mengharukan namun juga membanggakan. Namun, perasaan itu tidak lama, karena satu tugas lagi masih harus ditunaikan, yaitu penciptaan rekor dunia selam baru, yaitu UPACARA DI BAWAH LAUT. Penciptaan rekor ini bersamaan waktunya dengan peringatan detik-detik prokalamasi, tanggal 17 Agustus 2009 esok harinya, bertepatan dengan 64 tahun RI.
Dan, rekor baru pun tercipta: 2.486 peselam mengikuti upacara peringatan detik-detik proklamasi di bawah laut, pada kedalaman 10-22 meter dalam waktu 29 menit.
Kontingen Yogyakarta
Kali ini rasa haru yang menyelimuti hampir setiap peselam benar-benar tak bisa dibendung, setidaknya mata berkaca-kaca saat dentuman meriam satu kali menandai terciptanya rekor baru Guinness World Records. Kado untuk Ibu Pertiwi di 64 tahun merdeka.
Inilah salah satu prestasi yang disumbangkan Balar Jogja untuk negeri. Oleh karena itu tidak mengherankan jika secara khusus Kolonel (P) Sutarmono sebagai Komandan Lanal Jogja secara khusus mengucapkan selamat dan penghargaan kepada Balar Jogja yang telah mengirimkan 4 peselamnya, yaitu Priyatno Hadi S, Sugeng Riyanto, TM Hari Lelono, dan Dekon Suyanto. Bagi Balar Jogja, ini bukan sekedar prestasi, namun yang lebih penting adalah sebagai “modal” dan motivasi untuk meraih prestasi lainnya, di dunia penelitian arkeologi Indonesia tentunya. (sgg)
BALAI ARKEOLOGI YOGYAKARTA selain melayani masyarakat di bidang informasi dan pengetahuan kearkeologian berupa publikasi seperti penerbitan, penyuluhan, pameran, film dan multimedia, juga melayani dalam bidang:
1. konsultasi tentang BCB (benda dan banggunan)
2. pelaksana penelitian arkeologi
3. studi kelayakan arkeologis
4. pendokumentasian dan penyuntingan film pengetahuan arkeologi
5. hal-hal lain yang berkaitan dengan kearkeologian .....