Indonesia | English
Search :
Publikasi

Customer Support
 


Monday,27-May-2019
M S S R K J S
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  
Agenda Rutin
Jumat: Apel & Senam Pagi
Jumat setelah senam: Futsal dan Pingpong
Kamis Minggu ke-2 & 4: Latihan Arkeologi Bawah Air

Berita

Penelitian
Penelitian Gua Jepang

Penelitian Gua Jepang

Pada bulan April 2010, Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian sarana pertahanan militer Jepang pada masa Perang Dunia II. Penelitian tersebut dipimpin oleh Drs. Sambung Widodo. Penelitian terhadap peninggalan Jepang tersebut dilakukan dengan metode survey yang mencakup seluruh sarana militer Jepang di wilayah Kabupaten Sleman, Gunung Kidul dan Bantul di Provinsi D.I Yogyakarta, serta Kabupaten Purworejo di Provinsi Jawa Tengah. Penelitian tersebut bertujuan untuk: a. mengetahui bentuk dan fungsi sarana militer Jepang, b. mengetahui persebaran sarana militer, dan c. mengetahui hubungan antar bangunan sarana militer tersebut.

Di Kaliurang, di lereng selatan Gunung Merapi ditemukan 19 buah Bunker Jepang dengan rincian: dua buah berfungsi sebagai sanitasi, satu dapur, tiga gudang logistik dan dua buah gua pertahanan. Gua pertahanan ditempatkan pada posisi paling selatan yang melindungi bangunan tempat tinggal lain di sebelah utaranya. Bangunan pertahanan ini kemungkinan berfungsi untuk mengawasi Kota Yogyakarta yang ada di sebelah selatan dan mengawasi pesawat yang melewati wilayah udara kota tersebut. Di Kecamatan Berbah, tidak jauh dari bandar udara Maguwoharjo, juga ditemukan dua buah Bunker Jepang. Kemungkinan bunker ini berfungsi untuk mengamankan sarana pertahanan angkatan udara Jepang di Bandara tersebut.

Di perbatasan Bantul dan Gunung Kidul, di daerah yang termasuk dalam jajaran Pegunungan Sewu ditemukan 18 buah Bunker Jepang. Di lokasi yang paling selatan, menghadap ke laut ditempatkan sebuah bunker yang terbuat dari bahan cor beton dan dipersenjatai dengan meriam. Di sebelah utaranya ditempatkan dua buah bunker yang dilengkapi dengan lubang tembak senapan. Di arah yang lebih ke utara terdapat bangunan-bangunan untuk tempat tinggal, seperti sanitasi, dapur dan juga terdapat lapangan upacara. Antar bunker dihubungkan dengan jalan-jalan parit. Nampaknya penempatan sarana militer Jepang di lokasi ini berfungsi untuk mengawasi bahaya serangan udara dan dari laut di sebelah selatan, serta menangkal kemungkinan pendaratan tentara Australia di pesisir selatan Yogyakarta.

Pengamatan di Kabupaten Purworejo, berhasil mengidentifikasi sepuluh dari jumlah keseluruhan empat puluh Bunker Jepang yang ditempatkan di lereng selatan Pegunungan Menoreh. Tiga puluh bunker lainnya belum dapat diidentifikasi karena berada di lokasi yang sulit dijangkau dan tertutup oleh semak belukar. Padahal penelitian ini secara keseluruhan hanya dialokasikan waktu selama 10 hari. Sebagian besar gua tertahanan tersebut berfungsi sebagai bunker pertahanan, bahkan dua bunker dipersenjatai dengan meriam. Selain itu juga terdapat dua buah bunker yang berfungsi sebagai gudang logistic. Penempatan sarana militer di sisi selatan Pegunungan Menoreh berfungsi untuk mengawasi jalur transportasi / aksesibilitas yang menghubungkan antara Kebumen – Yogyakarta serta Magelang Mogyakarta. Seperti kita ketahui bersama, di kedua kota tersebut (Gombong dan Magelang) terdapat pangkalan militer Belanda.

Berdasarkan penelitian tersebut dapat diketahui bahwa, secara umum sarana militer Jepang dibangun dengan memanfaatkan kondisi lingkungan. Mereka memanfaatkan penghalang alam untuk membendung laju serangan bala tentara Sekutu. Jepang hanya membangun gua atau ceruk di dinding tebing pegunungan dan memperkuatnya dengan cor beton. Mereka menempatkan sarana militernya di lokasi-lokasi strategis dengan hanya diperkuat oleh beberapa orang anggota personel militer. Jepang juga tidak membangun benteng baru seperti Belanda, namun hanya mengambil alih sarana militer yang telah ada sebelumnya.

LAYANAN KAMI

BALAI ARKEOLOGI YOGYAKARTA selain melayani masyarakat di bidang informasi dan pengetahuan kearkeologian berupa publikasi seperti penerbitan, penyuluhan, pameran, film dan multimedia, juga melayani dalam bidang: 1. konsultasi tentang BCB (benda dan banggunan) 2. pelaksana penelitian arkeologi 3. studi kelayakan arkeologis 4. pendokumentasian dan penyuntingan film pengetahuan arkeologi 5. hal-hal lain yang berkaitan dengan kearkeologian .....

POLLING
Sumber media yang paling banyak Anda akses untuk mendapatkan informasi hasil penelitian arkeologi adalah: