Indonesia | English
Search :
Publikasi

Customer Support
 


Friday,23-August-2019
M S S R K J S
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Agenda Rutin
Jumat: Apel & Senam Pagi
Jumat setelah senam: Futsal dan Pingpong
Kamis Minggu ke-2 & 4: Latihan Arkeologi Bawah Air

Berita

Arkeologi & Publik
SERBA-SERBI PENGANGKATAN ARTEFAK DI PERAIRAN CIREBON
Ada Diskriminasi Peselam Lokal dan Asing

Heboh lelang artefak abad X hasil pengangkatan muatan kapal tenggelam dari perairan Ceirbon ternyata menyisakan "duka" para peselam lokal. Proses pengangkatan barang-barang yang juga data arkeologi itu diwarnai diskriminasi antara peselam lokal dan peselam asing. Detikcom, secara khusus mewawancarai salah seorang peselam lokal yang ikut dalam pengangkatan artefak senilai tidak kurang 720 M tersebut.

Berikut kisahnya, yang disadur dari detikcom, Jumat, 14/05/2010 08:02 WIB. (sgg)

Sugeng Triyono, Kisah Penyelam Harta Karun
Laurencius Simanjuntak - detikNews


Foto: Facebook

Jakarta - Sugeng hanya bisa melihat birunya laut. Ia kehilangan arah, tak tahu apakah ia sedang  mendekat ke arah kapal atau malah menjauh. Arus pun terasa sangat galak mengombang-ambingkan tubuhnya. Beruntung, ia masih bisa membedakan mana permukaan dan mana bawah laut.


Bekal sedikit kesadaran itulah yang akhirnya membuat Sugeng Triyono selamat dalam sebuah penyelaman mengangkat harta karun.
"Saat itu saya hanya menyebut nama Tuhan," kata Sugeng dalam acara ngobrol santai di Tembi Rumah Budaya, Jl Gandaria, Jakarta Selatan, Rabu (12/5/2010).


Sugeng Triyono atau yang akrab dipanggil Jabrik adalah satu dari duapuluhan penyelam yang bekerja untuk pengangkatan benda berharga muatan asal kapal tenggelam (BMKT) di perairan Cirebon, Jawa Barat. Belakangan diketahui ada 271.384 artefak dari berbagai jenis yang berhasil diangkat dari kapal kayu yang diperkirakan tenggelam 980 M itu.
Saat muncul di permukaan, Jabrik sadar tubuhnya sudah terseret sejauh dua mil dari kapal yang membawanya. Kapal besar itu pun hanya terlihat seujung kuku dan sesekali pandangannya ditutupi oleh gelombang besar mengayunkan tubuhnya.


"Saya hanya ingat prinsip yang diajarkan saat kita hilang: tenang, irit tenaga dan beri tanda," kata Jabrik yang juga salah satu pendiri Unit Selam Universitas Gadjah Mada ini.
Alhasil, setelah terombang-ambing selama tiga jam, sebuah perahu motor yang berawakkan rekannya pun datang untuk mengangkatnya dari ganasnya lautan saat itu. "Setelah dengar suara boat datang, saya lega," tutur Jabrik.


Pengalaman itu mungkin hal yang tak terlupakan bagi Jabrik saat bekerja mengangkat harta karun selama lebih dari setahun, April 2004-Oktober 2005. Oleh perusahaan tempat ia bekerja, PT Paradigma Sejahtera dan Cosmix Underwater Research Ltd, ia hanya diperbolehkan pulang (baca: turun kapal) selama dua minggu, setiap menyelesaikan pekerjaan selama enam minggu.


"Bisa dibayangkan bosannya di atas kapal selama itu," kata Jabrik yang harus
melakukan dua kali penyelaman, pagi dan sore, setiap harinya.

Diskriminasi

Jabrik bercerita, di kapal besar itu ada 26 penyelam yang terdiri dari 22 penyelam pribumi dan 4 penyelam asing. Tak jarang perlakuan diskriminatif didapatkan oleh para penyelam pribumi.
"Hanya orang bule yang bisa menikmati bir dan buah, sementara kita tidak. Meski akhirnya buah diperbolehkan juga," kata Jabrik.
Soal gaji, penyelam pribumi juga mendapatkan perlakuan yang berbeda. Jabrik dan penyelam pribumi lainnya hanya digaji Rp 6 juta per bulan. Hal ini jauh berbeda dengan penyelam asing dengan kedudukan yang sama.
"Malah ada bule yang masuk belakangan justru dapat US$ 3.000 per bulan," kata Jabrik.


Tak hanya itu, usai menyelam, di atas kapal Jabrik dan penyelam pribumi lainnya diharuskan untuk mencuci artefak yang masih penuh lumpur. Padahal, kata dia, pekerjaan cuci mencuci itu tidak pernah ada dalam kontrak kerja yang ia tandatangani sebelumnya.
"Kalau penyelam bule, dia tidak mau nyuci dan angkat-angkat barang," kata dia.


Saat tidak sedang bekerja, di atas kapal, kata Jabrik, para penyelam pribumi juga tak jarang menerima ejekan-ejekan yang bernada rasialis.
"Seperti saat orang kita mendekat komputer, dia (asing) 'bilang emang bisa komputer'," kisah Jabrik.


Namun, kata Jabrik, hal itu tidak menjadi besar lantaran para penyelam menyadari kondisi mereka berada di tengah laut yang ganas.
Kini, setelah lama pensiun dari penyelaman harta karun, Jabrik hanya bisa mengenang dan berbagi cerita tentang kehidupan pekerja di tengah laut. Saat ini, ia mulai berbisnis kecil-kecilan dengan membuka usaha angkringan di bilangan Gandaria, Jaksel dan Cibubur, Jaktim.


Dalam obrolan ringan di angkringannya malam itu, Jabrik hanya berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan kesejahteraan pekerja, terlebih yang berisiko kerja tinggi seperti penyelam harta karun. Soal diskriminasi dan ejekan rasial, ia juga meminta pemerintah melakukan pengawasan lebih, agar kerusuhan akibat ejekan rasial seperti di Batam beberapa waktu lalu tidak terulang lagi.
(lrn/anw)

Berita Aslinya


LAYANAN KAMI

BALAI ARKEOLOGI YOGYAKARTA selain melayani masyarakat di bidang informasi dan pengetahuan kearkeologian berupa publikasi seperti penerbitan, penyuluhan, pameran, film dan multimedia, juga melayani dalam bidang: 1. konsultasi tentang BCB (benda dan banggunan) 2. pelaksana penelitian arkeologi 3. studi kelayakan arkeologis 4. pendokumentasian dan penyuntingan film pengetahuan arkeologi 5. hal-hal lain yang berkaitan dengan kearkeologian .....

POLLING
Sumber media yang paling banyak Anda akses untuk mendapatkan informasi hasil penelitian arkeologi adalah: