Indonesia | English
Search :
Publikasi

Customer Support
 


Tuesday,7-September-2010
M S S R K J S
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30  
Agenda Rutin
Jumat: Apel & Senam Pagi
Jumat setelah senam: Futsal dan Pingpong
Kamis Minggu ke-2 & 4: Latihan Arkeologi Bawah Air
Home >>

Detail Publikasi

ARCHAEOLOGY FOR VISIT INDONESIA PROGRAMME

ARCHAEOLOGY FOR VISIT INDONESIA PROGRAMME

Sugeng Riyanto / arkeologijawa.com

Serba Klise

Pertanyaan klasik berkenaan dengan kedudukan dan peranan penelitian arkeologi dalam dinamika pembangunan nasional tidak pernah lepas dari kata kunci “apa manfaatnya ?” Secara teoritik – barangkali klise juga – penelitian arkeologi dapat diarahkan untuk tiga kepentingan, yaitu pengembangan ilmu pengetahuan, mendukung dunia pendidikan, dan bahkan untuk kepentingan ekonomik.

Terasa klise juga jika kepentingan ekonomik melulu diterjemahkan “sama dengan pariwisata”. Kemudian, jika tidak melulu pariwisata, kepentingan ekonomik apa lagi yang dapat disumbangkan oleh penelitian arkeologi? Contoh sederhana adalah sumbangan Balai Arkeologi Yogyakarta kepada perajin tembaga Tumang, Boyolali, Jawa Tengah bekaitan dengan ekstensifikasi produk mereka. Kekayaan sumberdaya arkeologi yang kebetulan berada di ruas jalur wisata SSB (Solo – Selo - Borobudur) antara lain adalah bangunan masa Mataram Kuno berupa candi, petirtaan, serta komponen bangunan lainnya. Di dalamnya jika dicermati mengandung unsur estetika yang dapat dikonversi menjadi model untuk pengembangan kerajinan tembaga, seperti relif pada petirtaan Cabean Kunti dan miniatur bangunan Candi Lawang. Namun, sayang sekali tidak diketahui apakah gagasan ini sudah diaplikasikan atau baru sebatas gagasan imajinatif.

 

Enjoy The Exotic Past

Pariwisata sebagai bagian dari kepentingan ekonomik penelitian arkeologi mungkin paling banyak dibahas, dan mudah-mudahan kepentingan ilmu dan pendidikan tidak terpinggirkan. Selain karena tidak setiap hasil penelitian arkeologi dapat “diekonomikan”,  pada prinsipnya wujud buah kerja arkeolog adalah informasi dan pengetahuan tentang seluk beluk masa lalu. Borobudur dan Prambanan hanyalah contoh objek wisata berbasis data arkeologi. Pertanyaannya adalah: adakah data kunjungan yang menggambarkan perimbangan persentase pengunjung berkategori riset, pengunjung berkategori belajar seluk beluk objek, dan pengunjung berkategori “lihat-foto-pulang” ?

Informasi dan pengetahuan sebagai buah kerja arkeolog dalam banyak hal merupakan kunci untuk memberi nilai lebih atas objek sehingga pengunjung tidak sekedar menyaksikan onggokan batu, tetapi ada “jiwa” di dalamnya. Masa lalu negeri yang panjang tercermin pula pada tinggalan yang melimpah dan beragam dalam wujud objek-objek yang sesungguhnya eksotis. Dengan dukungan informasi dan pengetahuan, maka akan banyak orang yang dapat menikmati eksotika masa lalu Indonesia, dan selanjutnya: VISIT INDONESIA, ENJOY THE EXOTIC PAST.

LAYANAN KAMI

BALAI ARKEOLOGI YOGYAKARTA selain melayani masyarakat di bidang informasi dan pengetahuan kearkeologian berupa publikasi seperti penerbitan, penyuluhan, pameran, film dan multimedia, juga melayani dalam bidang: 1. konsultasi tentang BCB (benda dan banggunan) 2. pelaksana penelitian arkeologi 3. studi kelayakan arkeologis 4. pendokumentasian dan penyuntingan film pengetahuan arkeologi 5. hal-hal lain yang berkaitan dengan kearkeologian .....

POLLING
Menurut anda, lelang Harta Karun BMKT Cirebon sebaiknya?